opini

Gowok dan Kamasutra Jawa: Seksualitas, Spiritualitas, dan Estetika Tubuh dalam Kebudayaan Jawa Klasik

Selasa, 27 Mei 2025 | 20:22 WIB
Poster film Gowok Kamasutra Jawa. ((instagram.com/@hanungbramantyo))

Menurut antropolog Koentjaraningrat, simbol seksual dalam budaya Jawa bukan sekadar alat ekspresi birahi, tetapi kode kebudayaan yang menyampaikan pesan tentang kesuburan, harmoni, dan regenerasi spiritual.

Berbeda dengan pandangan agama-agama Abrahamik yang cenderung melihat tubuh sebagai sumber dosa, Jawa klasik memandang tubuh sebagai jalan pengenalan diri. Melalui tubuh, manusia memahami keterbatasan, kerinduan, dan transendensi.

Kritik terhadap Modernitas yang Menyekat

Di era modern, narasi tentang seks kerap dibungkam atas nama moralitas dan kesalehan. Seks diajarkan dalam bisikan, ditutup dalam kurikulum sekolah, bahkan dihapus dari diskursus kebudayaan. Akibatnya, seks menjadi liar, banal, dan terputus dari akar etik dan estetikanya.

Tradisi gowok dan “Kamasutra Jawa” seharusnya mengajak kita merenungkan kembali bagaimana kebudayaan bisa menjinakkan hasrat, bukan dengan represi, tetapi dengan pengetahuan. Seks, dalam kebudayaan Jawa, tidak pernah liar karena ia dijaga oleh tata nilai, simbolisme, dan ritus.

Bukan berarti kita harus menghidupkan kembali tradisi gowok secara literal. Tapi warisan nilai-nilainya yaitu pendidikan rasa, kesadaran tubuh, dan penghormatan terhadap relasi manusia perlu dibaca ulang, sebagai perlawanan terhadap vulgaritas budaya massa yang menjadikan seks hanya sebagai konsumsi visual.

Tubuh, Bahasa, dan Rahasia

Kita sedang hidup dalam zaman yang miskin simbol. Seks dipertontonkan dalam iklan dan pornografi, tetapi miskin makna. Jawa klasik menawarkan alternatif: tubuh adalah bahasa, dan seks adalah rahasia. Rahasia yang hanya bisa dibaca oleh mereka yang sabar, lembut, dan sadar akan kedalaman rasa.

Sebagaimana ditulis dalam Serat Centhini:
"Sopo ngerti rasa, bakal ngerti sukma; sopo ora ngerti rasa, urip mung dadi daging sing lumaku."
(Siapa yang mengerti rasa, akan memahami jiwa; siapa yang tak mengerti rasa, hidupnya hanya daging yang berjalan).

Dan dalam kutipan ini, kita menyadari bahwa seks, dalam kebudayaan Jawa, bukanlah dosa, tapi jendela menuju pengenalan diri yang paling jujur.

Halaman:

Tags

Terkini

Korupsi Musuh Pancasila

Senin, 1 Juni 2026 | 17:49 WIB

Lima Sila sebagai Lima Luka

Senin, 1 Juni 2026 | 08:25 WIB

Refleksi Tentang Kesetaraan Gender

Sabtu, 30 Mei 2026 | 08:53 WIB

Qurban dan Kepedulian Sosial

Selasa, 26 Mei 2026 | 21:04 WIB

Dua Wajah Indonesia

Selasa, 26 Mei 2026 | 04:34 WIB

Mengapa Indonesia Sulit Maju?

Minggu, 24 Mei 2026 | 08:07 WIB

Rekacipta Indonesia

Sabtu, 23 Mei 2026 | 08:16 WIB

Perangai Islam Ilmiah

Sabtu, 23 Mei 2026 | 08:13 WIB

Sistem AHWA dalam Pemilihan Ketua Umum PBNU

Jumat, 22 Mei 2026 | 05:29 WIB