opini

Langit Menangis, Bumi Merindu, Jiwa-Jiwa Bersaksi

Sabtu, 21 Desember 2024 | 06:02 WIB
View estetik di Taman Langit Pangalengan. (Bicaranetwork.com/Tangkapan layar YouTube Pejalan Malas)

 

Oleh: Munawir

Dari Sanrego yang damai, sebuah desa kecil yang kini memendam rindu paling dalam, engkau memulai langkah panjang penuh harapan.

Di sanalah, pada tanah yang subur oleh doa-doa keluargamu, engkau pertama kali mengenal arti perjuangan. Dari lorong-lorong sunyi desa hingga hiruk-pikuk kota, setiap langkahmu adalah cerita tentang pengorbanan, keikhlasan, dan mimpi yang tak pernah padam.

Kampung halamanmu kini kehilanganmu, tetapi ia tak pernah melupakan. Pohon-pohon yang dulu menaungi jalan kecil itu kini bersedih, menyisakan bayangmu yang tak lagi pulang. Sungai yang mengalir di lembah kampungmu serasa ikut merintih, menyanyikan elegi panjang tentang seorang anak yang pernah lahir dan tumbuh di pelukannya, hanya untuk kemudian dipanggil pergi oleh waktu.

Hidupmu yang Ditulis dengan Ketulusan dan Perjuangan
Hidupmu, Muhammad Tonang, adalah sebuah kitab panjang yang ditulis dengan tinta ketabahan dan lembaran pengorbanan. Dari Pesantren Ma’had Hadits Biru hingga tangga-tangga kemuliaan di UIN Alauddin Makassar, engkau selalu menjadikan kesederhanaan dan keikhlasan sebagai sandaran langkah.

Engkau tidak hanya hadir sebagai seorang birokrat, tetapi juga sebagai peneduh dalam badai, penghibur dalam kesedihan, dan pemimpin yang mendekap rakyatnya dengan kehangatan.

Hidupmu penuh dengan jalan terjal yang menuntut kesabaran luar biasa, tetapi engkau melaluinya dengan senyuman dan kekuatan.

Tidak ada keluhan, hanya pengabdian. Tidak ada keinginan duniawi, hanya impian melihat orang lain sejahtera. Itulah engkau—pribadi yang mengajarkan bahwa hidup sejatinya adalah tentang memberi, tentang berkorban, tentang menjadi cahaya di tengah kegelapan.

Sahabat-Sahabatmu yang Menangis dalam Diam
Sahabat-sahabatmu kini berdiri dalam diam yang menyakitkan. Mereka mengenang tawa lembutmu yang pernah menjadi penghiburan di kala duka. Mereka merindukan nasihatmu yang tegas tetapi penuh cinta. Engkau adalah teman yang tak pernah meninggalkan, sahabat yang selalu hadir dalam segala keadaan.

Namun kini, mereka hanya bisa menundukkan kepala, merasakan kehampaan yang tak terungkapkan. Air mata mereka jatuh, bukan hanya karena kehilangan, tetapi karena rasa syukur pernah mengenalmu, pernah bersanding dalam perjalanan hidupmu yang penuh makna.

Hujan yang Menangisi, Langit yang Bersaksi
Saat kabar kepergianmu sampai ke tanah kelahiranmu, langit seolah tak mampu menahan tangisnya. Dua hari dua malam, hujan turun tiada henti, membasahi Makassar dan sekitarnya. Rinai hujan itu, seperti air mata yang tertahan, mengalir deras saat jenazahmu tiba di Bandara Hasanuddin.

Malam itu, langit Makassar menjadi saksi kedatanganmu untuk terakhir kalinya. Hujan menyambutmu di dini hari, membasuh duka yang tak terkatakan. Sepanjang malam hingga pagi menjelang, hujan itu terus turun, seolah alam pun ikut merasakan beratnya perpisahan ini.

Ketika jenazahmu disemayamkan di rumah duka, hujan tetap setia menemani. Ia menjadi lantunan elegi alam, mengiringi doa-doa yang tak pernah berhenti dipanjatkan. Hingga saat kau dimakamkan, hujan tetap turun, seakan-akan langit tak rela melepasmu.

Halaman:

Tags

Terkini

Kedaulatan Pangan Dimulai dari Desa

Sabtu, 18 Juli 2026 | 19:49 WIB

Mendadak Tua

Sabtu, 18 Juli 2026 | 04:47 WIB

Pagi, Aku Tak Berarti?

Sabtu, 11 Juli 2026 | 05:45 WIB

Jalan Tangguh Iran

Sabtu, 4 Juli 2026 | 12:43 WIB

Saat Regenerasi Menemukan Namanya: Isfhan

Sabtu, 4 Juli 2026 | 12:32 WIB

Menyiapkan Sekoci bagi Penumpang Kapal Retak

Kamis, 2 Juli 2026 | 14:04 WIB

Wahai Mentari Pagi!

Rabu, 1 Juli 2026 | 07:46 WIB

Mencegah Korupsi di Tatar Santri

Selasa, 30 Juni 2026 | 19:34 WIB