Petunjuk ini menjadi sangat khusus karena akan menentukan seseorang terselamatkan dari api neraka atau tidak. Hidayat at-Taufiq menjadi pintu bagi terwujudnya hidayah yang disebut oleh Al-Imam Raghib Al-Asfahani dengan hidayat bi ar-Rahmah.
Dalam realita keislaman kita bisa menyaksikan betapa banyak orang yang telah menjadi bagian dari mereka yang meyakini agama ini.
Tapi justru hidupnya penuh dengan hal yang bertolak belakang dengan esensi keimanannya. Iman mengajarkan kejujuran (amanah). Tapi hidupnya penuh dengan tipu daya dan ketidak jujuran.
Benarlah apa yang disabdakan Rasulullah: “tak seorang pun di antara kalian yang akan masuk syurga tanpa kasih sayang Allah”. Para sahabat bertanya: “Engkau juga ya Rasul?”. Jawab beliau: “Iya benar. Saya juga tidak masuk syurga jika bukan karena kasih sayang Allah”.
Dan kasih sayang Allah itu hanya akan didapatkan melalui ketakwaan yang sesungguhnya yang kemudian mengantar kepada kematian dalam keadaan Islam. Dalam ekspresi lain Rasulullah mengatakan: “barangsiapa yang di akhir ucapannya adalah laa ilaaha illallah pasti masuk syurga”. Tentu kalimat Tauhid ini bukan sekedar ucapan lisan. Tapi komitmen yang dibarengi oleh pembuktian (amal saleh dan ketakwaan).
Hidayah bi ar-Rahmah menjadi impian semua insan Mukmin. Bahwa pada akhirnya semua proses hidayah (keislaman) kita harus mengantar kepada kepastian masuk syurga. Dan kepastian itu ada pada “rahmah” (kasih sayang Allah SWT).
Allahumma irhamna ya Rahiim!
Demikian arti, urgensi dan klasifikasi hidayah dalam perspektif Islam. Penjelasan ini merujuk kepada Kitab Gharib fil-Qur’an Al-Karim karya Sheikh Raghib al-Asfahani.
Beliau adalah seorang Ulama Sunni yang hidup di tahun 400-an Hijriyah. Karya beliau ini dikenal sebagai buku syarah (penjelasan) arti Al-Qur’an kata per kata yang pertama dalam sejarah Islam.
Semoga manfaat dan Allah meridhoinya kita semua. Amin!