opini

Ihsan Menjalani Hidup

Sabtu, 29 Juni 2024 | 12:00 WIB
ilustrasi Islam nu Islami

Pro Kehidupan

Islam itu agama yang mengajarkan kemajuan hidup bagi seluruh umat manusia. Alam dengan seluruh isinya harus diurus dan dibangun secara optimal, tetapi jangan dirusak (QS Al-Qashash: 77; Hud: 61; Al-Baqarah: 11, 30;).

Kaum muslimun bahkan diangkat sebagai umat pilihan atau khayra ummah karena kehadirannya memiliki tugas suci mendakwahkan Islam (QS Ali Imran: 110).

Tugas mulia itu guna melanjutkan misi kerisalahan Nabi untuk menjadi rahmatan lil-‘alamin (QS Al-Anbiya: 107). Jangan jauhi dan anti kehidupan.

Jalani kehidupan dengan ihsan yang membawa kemajuan yang membawa keselamatan dan kemaslahatan hidup di dunia dan akhirat.

Ihsan akan membawa kemajuan hidup dalam relasi habluminallah dan habluminnas yang tawasuth (tengahan) dan tawazun (berkesimbangan).

Kemajuan hidup bagi kaum muslimin maupun umat manusia secara umum tidak hanya pesan normatif dan imperatif dari ajaran Islam, tetapi diwujudkan dan dicontohkan oleh Nabi Muhammad bersama kaum muslimin dalam dalam membangun peradaban hidup yang cerah dan mencerahkan yang melahirkan era kejayaan Islam di panggung sejarah berabad-abad lamanya. Peradaban maju justru karena umat Islam berbuat ihsan yang melahirkan pencerahan atau “al-Madinah al-Munawwarah”.

Pandangan kehidupan dan keduniaan dalam perspektif Islam tidak berdasrkan humanisme tetapi berlandaskan ketuhanan atau humanisme-teosentris.

Pandangan integral inilah yang menjadi ciri khas sebagai core-value (nilai inti) sekaligus distinctive (pembeda) dari Ajaran Islam yang melahirkan dunia antroposen yang terintegrasi dengan ketuhanan (iman, takwa, tauhid) untuk melahirkan pencerahan dalam kehidupan umat manusia dan alam semesta dalam visi utama rahmatan lil-‘alamin.

Inilah pandangan Islam yang tengahan (wasathiyah) yang berbeda dari cara pandang sekuler atau sebaliknya yang rahbaniyah atau menjauhi dunia.

Karenanya, sikapi dan jalani hidup dengan ihsan dalam karakter Muslim sebagai “abdullah” yakni sebagai hamba Allah yang selalu beribadah dan pasrah kepada-Nya serta “khalifatul fil-ardl” yaitu wakil Tuhan yang bertugas memakmurkan bumi.

Itulah teladan utama hidup para Nabi dan Rasul serta orang-orang bijak nan cerdas dan mulia hati dalam menjalani kehidupan di dunia.

Tugas dan kewajiban setiap insan betiman ialah melakukan ikhtiar lewat segala usaha dan do’a yang sungguh-sunguh, selebihnya tawakal dan sabar kepada Dzat Yang Maha Segalanya.

Hal yang terbaik berbuatlah yang positif dan membawa kemaslahan, kebaikan, dan kemajuan hidup meskipun setahap demi setahap.

Seraya jauhi yang buruk dan mafsadat dengan berbuat ihsan sebagai alternatif, bukan dengan anti dunia. Membangun sesuatu itu lebih sulit ketimbang mengkritik dan menegasikan kehidupan, meski kritik itu tetap baik untuk pengingat agar hidup dijalani dengan seksama. Keseksamaan itu cermin ketaqwaan.

Halaman:

Tags

Terkini

Korupsi Musuh Pancasila

Senin, 1 Juni 2026 | 17:49 WIB

Lima Sila sebagai Lima Luka

Senin, 1 Juni 2026 | 08:25 WIB

Refleksi Tentang Kesetaraan Gender

Sabtu, 30 Mei 2026 | 08:53 WIB

Qurban dan Kepedulian Sosial

Selasa, 26 Mei 2026 | 21:04 WIB

Dua Wajah Indonesia

Selasa, 26 Mei 2026 | 04:34 WIB

Mengapa Indonesia Sulit Maju?

Minggu, 24 Mei 2026 | 08:07 WIB

Rekacipta Indonesia

Sabtu, 23 Mei 2026 | 08:16 WIB

Perangai Islam Ilmiah

Sabtu, 23 Mei 2026 | 08:13 WIB

Sistem AHWA dalam Pemilihan Ketua Umum PBNU

Jumat, 22 Mei 2026 | 05:29 WIB