opini

Bisik dalam Gelombang

Jumat, 28 Juni 2024 | 14:00 WIB
Ilustrasi gelombang tinggi. (Setkab.go.id)

Oleh: Zawawi Imron

Seorang sufi modern mau makan dengan menu nasi dengan lauk kerupuk, kecap dan lombok.
Ia tahu sajian ini di bawah garis kesederhanaan.

Tapi ia bayangkan kerja petani yang menanam padi, yang berasnya kini berupa nasi, ia bayang pembuat kerupuk dan para pekerja yang keringatnya jadi bumbu kecap.

Terimakasih untuk mereka, lalu doa untuk mereka yang berjasa semoga ia kelak bertemu mereka di sorga.

Lalu, makanan apa adanya itu terasa nikmat tak kalah dengan sajian mewah di pesta-pesta.

Kecerdasan jiwa seperti ini membuat hatinya bergetar mengucap syukur Alhamdulillah.

Kemudian ia bayangkan saudara sebangsa yang tinggal di kaki gunung, di tepi sawah, yang jadi kuli dan yang tinggal di kota raya yang semua ingin mengharumkan Indonesia.

Kemudian kepada Tuhan ia berbisik, "Ya, Allah, aku sudah bekerja keras, takdirmu kuterima dengan lapang dada.

Ada yang ingin kubisikkan padamu, di akhirat nanti, selain aku menjadi kekasihmu, aku ingin tetap manjadi orang Indonesia.
Amin!

Tags

Terkini

Kedaulatan Pangan Dimulai dari Desa

Sabtu, 18 Juli 2026 | 19:49 WIB

Mendadak Tua

Sabtu, 18 Juli 2026 | 04:47 WIB

Pagi, Aku Tak Berarti?

Sabtu, 11 Juli 2026 | 05:45 WIB

Jalan Tangguh Iran

Sabtu, 4 Juli 2026 | 12:43 WIB

Saat Regenerasi Menemukan Namanya: Isfhan

Sabtu, 4 Juli 2026 | 12:32 WIB

Menyiapkan Sekoci bagi Penumpang Kapal Retak

Kamis, 2 Juli 2026 | 14:04 WIB

Wahai Mentari Pagi!

Rabu, 1 Juli 2026 | 07:46 WIB

Mencegah Korupsi di Tatar Santri

Selasa, 30 Juni 2026 | 19:34 WIB