Ketika itu beliau jauh-jauh berangkat dari Sarang naik mobil Pickup bersama istri dan supirnya. di bagian belakang Pickup ada kompor, minyak gas, minyak kelapa, beras 1 karung, krupuk mentah, ikan-ikan laut yang dikeringkan, dan lauk-pauk lainnya sebagai bekal selama mengikuti 3 hari rangkaian Muktamar, kata beliau agar tidak merepotkan tuan rumah.
Beliau juga merupakan sosok yang sangat “totalitas” dalam mendidik para santrinya. Sampai sekarang saya masih ingat betul kenangan ketika beliau yang meski selelah apapun, pulang dari perjalanan sejauh apapun dan dalam usia yang sangat sepuh seperti itu selalu meluangkan waktunya untuk mengajar santri-santrinya.
Tidak jarang karena saking capeknya beliau tertidur beberapa detik di tengah-tengah membacakan kitab untuk kami. Di bulan Ramadhan beliau bahkan bisa berjam-jam duduk tanpa henti untuk membacakan kitab, semua waktu beliau seakan-akan hanya didedikasikan untuk ilmu dan para penuntutnya.
Salah satu santri senior beliau KH. Mas Abdul Adhim pernah bercerita :
“Dulu setiap ada santri pamit pulang ke Mbah Moen untuk mengambil uang kiriman, pasti beliau tanya berapa kirimannya dalam sebulan? Langsung beliau cukupi agar santri itu fokus ngaji dan tidak pulang".
Dan yang paling membuat beliau sangat dicintai dan dirindukan - lebih-lebih jika kita melihat keadaan kita sekarang ini adalah semangat beliau dalam menyatukan ummat.
Beliau paling tidak ridho jika melihat ummat Islam tidak kompak dan terpecah belah, salah satu momen yang membuat beliau sangat duko (marah) adalah ketika waktu itu salah satu PWNU mengumumkan hari lebaran yang berbeda dengan hasil Itsbat pemerintah.
Beliau bahkan sampai menulis kitab khusus berjudul “Nususul Akhyar fi Asshaumi wal ifthar” yang mengajak agar ummat bersatu dalam urusan hari raya dengan mengikuti apa yang telah ditetapkan oleh pemerintah.
Karena semangat persatuan beliau yang begitu luar biasa itu, beberapa bulan sebelum wafat, sambil mengeluarkan air mata berpesan kepada salah satu pengurus PBNU, jauh sebelum munculnya perdebatan nasab akhir-akhir ini :
“Orang-orang NU, tidak boleh dan jangan sampe mau diadu domba dengan ahlul bait, para aktivis Nahdatul Ulama tidak boleh terpancing oleh apapun yang mengajak untuk bermusuhan dengan Ahlul bait".
Dan pada masa-masa “fitnah” seperti sekarang ini ini, kita benar-benar merasa kehilangan akan sosok pendamai dan penyejuk seperti beliau, sosok pemersatu seperti beliau benar-benar sangat kita rindukan.
Dalam moment Haul beliau yang ke 5, untuk ruh mulia Syaikhina Maimoen Zubair Al-Fatihah...