Konsultan politik juga memanfaatkan media sosial untuk menyebarkan pesan kampanye secara luas dan interaktif.
Ketiga: Manajemen Krisis dan Pengelolaan Isu Negatif
Dalam kompetisi pemilu, kandidat sering menghadapi krisis dan isu negatif yang dapat merusak reputasi mereka.
Konsultan politik memiliki keahlian dalam mengelola krisis dan meminimalkan dampak dari skandal atau serangan politik. Ini meliputi:
3.1 Strategi Mitigasi Krisis:
Mengembangkan rencana darurat untuk menangani situasi krisis, termasuk bagaimana merespons tuduhan atau insiden negatif dengan cepat dan efektif.
3.2 Pengelolaan Isu:
Memantau isu-isu yang dapat muncul dan mempersiapkan respons yang sesuai. Ini termasuk memprediksi serangan dari lawan politik dan merancang strategi untuk menghadapinya.
3.3 Pemulihan Citra:
Bekerja untuk memulihkan citra kandidat setelah krisis atau skandal. Ini mungkin melibatkan kampanye perbaikan citra, pernyataan publik, dan upaya untuk mengalihkan perhatian dari isu negatif ke pencapaian atau kebijakan positif kandidat.
-000-
“Tapi, bukankah semua konsultan politik mengerjakan hal itu? Lalu apa yang membedakan anda dengan konsultan politik lain, karena anda memenangkan 100 persen, semuanya, lima kali pilpres langsung yang pernah ada dalam sejarah Indonesia?”
Itu pertanyaan yang acapkali juga saya terima. Jawabnya: memilih capres yang tepat, itu 80 persen penentu kemenangan.
Itu sebabnya saya berani menyatakan apa yang dikutip Prabowo: “Saya tak akan datang pada capres yang akan kalah.”
Tapi bagaimana cara tahu capres yang bakal menang? Itu gabungan kemampuan membaca data digabung instinct politik.
Kemampuan membaca data dimiliki oleh semua akademisi yang kompeten soal survei. Instinct politik dimiliki oleh mereka yang jam terbangnya sudah lama sebagai praktisi (aktivis, politisi).
Tapi gabungan kemampuan membaca data dan instinct politik, yang berhasil memenangkan lima kali pilpres berturut-turut, juga dibantu oleh hoki yang tinggi.