Pengunduran diri Hasan bin Ali dan penyerahan kepemimpinan kepada Mu’awiyah, meskipun dilandasi oleh dorongan cinta damai dan keinginan menghindari pertumpahan darah lebih lanjut, menciptakan perpecahan yang mendalam dalam umat Islam. Pembentukan sistem monarki dan munculnya golongan Syi’ah sebagai hasil dari kekalahan Ali dalam Perang Shiffin mengubah pola kepemimpinan Islam. Dengan demikian, sejarah ini mengajarkan bahwa dalam menghadapi tantangan dan perbedaan, pemahaman, dialog, dan upaya damai memiliki peran krusial dalam menjaga persatuan dan kestabilan umat Islam.
Sumber : Al-Akkad, Abbas Mahmoud, Ketakwaan Khlaifah Ali bin Abi Thalib (terj. Bustami A. Gani dan Zainal Abidin Ahmad) (Jakarta: Bulan Bintang, 1979). Al-Atsir, Ibnu, al-Kamilfi at-Tarikh, Jilid I(Beirut: Dar al-Fikr, 1979), Hassan, Hassan Ibrahim, Sejarah dan Kebudayaan Islam (terj. Djahdan Humam (Yogyakarta: Kota kembang, 1997). Hudgson, Marshall GS., The Venture of Islam, Iman dan Sejarah dalam Peradaban Dunia, buku pertama (terj. Mulyadhi Kartanegara) (Jakarta: Paramadina, 1999). Lewis, Bernard, Bangsa Arab dalam Lintasan Sejarah; dari segi Geografi, Sosial, Budaya dan Persatuan Islam (terj. Said Jamhuri) (Jakarta: Pedoman []mu Jaya, 1988). Madjid, Nurcholish, Islam Doktrin dan Peradaban (Jakarta: Paramadina, 1992) Cet. H. Sou’yb, Jousouf, Sejarah Daulat Khulafaur Rasyidin (Jakarta: Bulan Bintang, 1979). Syalabi, Ahmad, Sejarah Kebudayaan Islam, Jilid I (terj: Mukhtarv Yahya) (Jakarta: Pustaka al-Husna, 1992), cet. VII. As-Suyuthi, Jalaluddin, Zarikh al-Khulafa’ (Mekah Mukarromah: Maktabah Nizar Mushthafa al-Baz, 2000).