Senagainana biasanya, Anies tampil dengan kepribadian yang tenang, pemikiran yang tegas dan jelas, dan dengan komunikasi yang fasih (eloquent) dan sistimatis. Berdasarkan tema utama debat pertama ini, Anies secara tajam menyoroti urgensi penegasan hukum pada segala lini kehidupan dan dalam semua tingkatan.
Saya menangkap statemen pembuka Anies ini, bukan sekedar berbicara kepada forum debat itu. Tapi lebih luas sedang menyampaikan realita yang ada di masyarakat. Di mana hukum sedang menjadi “victim” kebuasan hawa nafsu kekuasaan. Pernyataan pembuka Anies adalah kritikan tajam kepada keadaan saat ini, sekaligus penyampaian argumen dasar kenapa tema perubahan yang menjadi tema kampanyenya menjadi kebutuhan mendesak kali ini.
Anies menekankan bahwa Indonesia adalah negara hukum. Bukan negara kekuasaan. Dalam sebuah negara hukum, kekuasaan diatur dan tunduk pada hukum. Tapi pada negara kekuasaan (authoritarian) hukum diatur dan dikontrol oleh kekuasaan.
Anies mencontohkan bagaimana seorang milenial bisa dipilih menjadi cawapres dengan proses hukum yang terasa dipaksakan dan menggelikan. Sementara ribuan anak-anak muda yang jika bangkit mengoreksi kekuasaan dihadapi dengan kekerasan. Ini adalah salah satu bentuk viktimasi hukum yang sedang terjadi.
Contoh lain adalah seorang rumah tangga yang melaporkan KDRT. Justeru tidak ditangani secara proporsional dan akhirnya Ibu itu meninggal. Bukti bahwa hukum di negara Indonesia masih sering tidak memihak kepada kebenaran dan mereka yang termarjinalkan. Tajam ke bawah tapi tumpul ke atas.
Contoh yang paling menyedihkan yang disampaikan oleh Anies adalah tentang seorang pendukung Prabowo yang memprotes hasil pilpres 2019 lalu. Dia tewas karena pembelaannya kepada apa yang dianggap kebenaran dan keadilan ketika itu. Namun hingga kini kematian sang pendukung itu masih misterius dan tidak ditangani secara sungguh-sungguh. Dan ini justeru ketika sang calon yang didukung ketika itu telah bergabung dengan kekuasaan.
Self sentrisme Prabowo
Urutan kedua yang menyampaikan paparan visi misi adalah capres no. urut 2, Prabowo Subiyanto. Di awal pemaparannya Prabowo nampak berusaha menenangkan diri, tidak menggebu-gebu seperti biasa. Tetapi ketika sudah menyebut dirinya sebagai ksatria dan siap mati untuk negara, suara itu menaik dan nampak sangat emosional.
Hal kedua yang disampaikan oleh Prabowo adalah pujian kepada (walaupun tidak menyebut nama) kepemimpinan Jokowi. Menurutnya walaupun di sana sini ada kekuarangan tapi Kepemimpinan (Jokowilah) Indonesia tetap aman, di saat di mana-mana terjadi peperangan.
Tanpa sengaja sesungguhnya pernyataan Prabowo di atas merupakan respon terhadap kritikan Anies ke pemerintahan Jokowi yang khususnya akhir-akhir ini banyak mengangkangi hukum di tanah air. Prabowo sekali lagi ingin menunjukkan loyalitas kepada “the man behind the scenes”. Tentu kita semua menyadari ini karena anaknya menjadi cawapres Prabowo.
Prabowo nampak tidak dapat mengendalikan emosi di saat pendukungnya mulai bertepuk tangan dan teriak-teriak. Menunjukkan kejiwaan yang cukup labil dan mudah terbawa arus keadaan sekitar. Tentu bagi banyak orang hal seperti ini bukan hal baru dari Prabowo. Sampai-sampai ada nitizen yang berkomentar “untung tidak ada podium di depannya”.
Ganjar dan slogan sat set
Ganjar menyampaikan visa misi dengan gaya dan intonasi suara yang khas. Seolah ingin mendapatkan perhatian dengan gaya dan intonasi suaranya. Secara kefasihan (eloquence) Ganjar berhak mendapat jempol.
Hanya saja, entah kurang informasi atau mungkin itulah yang dipersiapkan dari tim, Ganjar justeru tidak menyampaikan materi sesuai tema debat; hukum, HAM, Korupsi dan demokrasi dan pemerintahan. Ganjar justeru banyak bercerita tentang kunjungan ke Papua, NTT, dan mengumbar janji untuk membangun puskesman di desa-desa.
Hal yang kemudian ketika pada sesi ‘direct encounter’ antara para calon, Anies menyebut jawaban Ganjar dengan “abu-abu” alias tidak jelas apalagi tegas. Ganjar nampak berusaha mencari Selamat agar tidak nampak benar-benar berseberangan dengan Jokowi. Tapi juga ingin menampilkan diri sebagai kandidat yang independen dan tidak bergantung kepada kekuasaan.