Kaum Syi’ah memiliki akidah Mahdawiyah yang banyak berbeda dengan kaum Sunni. Mahdawiyah tidak mendapat tempat istimewa dalam akidah Sunni. Namun konsep Imamah merupakan landasan teologi Syi'ah, sehingga Mahdawiyah merupakan salah satu akidah penting bagi kaum Syi’ah. Tidak ada Syi'ah bagi yang tidak percaya pada Imamah.
*Imam Mahdi Menurut Wahabi*
Kaum Wahabi adalah pengikut Muhammad bin Abdul Wahab (1703-1792). Tetapi para pengikutnya menamakan diri mereka sebagai pengikut Manhaj Salaf.
Sebagian kalangan mengira bahwa kaum Wahabi tidak meyakini kemunculan Imam Mahdi. Pendapat ini tidak sepenuhnya benar, sebab sebagian besar ulama yang mengaku sebagai pengikut Manhaj Salafi, tidak dapat mengingkari keberadaan Hadits-hadits mengenai Imam Mahdi.
Abdul Muhsin Al-‘Abbad, mantan Rektor Universitas Islam Madinah dan pengajar di Masjid Nabawi, melalui bukunya ‘Aqidatu Ahlis Sunnah wal Atsar fil Mahdi Al-Muntazhar (hal 153-155), menjawab pengingkaran sejarawan Ibnu Khaldun atas Hadist-hadist mengenai Imam Mahdi, sebagai berikut:
“Seandainya terjadi keraguan dalam perkara Al-Mahdi ini dari seseorang yang punya pengalaman dalam bidang Hadits, tentu itu akan dianggap ketergelinciran darinya. Lalu bagaimana bila itu terjadi pada ahli sejarah yang bukan ahli Ilmu Hadits?
Dan sungguh bagus apa yang dikatakan oleh Ahmad Syakir dalam takhrij Hadits-hadits Musnad Ahmad: "Adapun Ibnu Khaldun, ia telah mengikuti sesuatu yang dia tidak punya ilmu padanya dan menerobos sesuatu yang ia bukan ahlinya…”
“Sesungguhnya yang sedikit dari Hadits yang selamat dari kritik itu cukup untuk dijadikan hujjah dalam hal ini, dan Hadits yang tidak selamat dari kritik itu sebagai penguatnya. Padahal Hadits yang selamat dari kritik justru banyak.”
Kaum Wahabi menyatakan, terdapat golongan yang telah menyimpang tentang Mahdawiyah:
Pertama, kaum Sufi yang menggantungkan harapan akan munculnya Al-Mahdi, sehingga menimbulkan keyakinan bahwa daulah Islam tidak akan tegak kecuali dengan kemunculannya.
Kedua, orang-orang yang memanfaatkan berita kemunculan Al-Mahdi demi kepentingan pribadi atau kelompok.
Mereka, seperti dikatakan Ibnu Taimiyyah dalam Minhajus Sunnah (8/259), di antaranya adalah: pendiri Daulah Fatimiyyah, Mirza Ghulam Ahmad pendiri Ahmadiyah, dan Syi’ah Rafidhah.
Pada dasarnya, fitur Imam Mahdi yang disebarluaskan oleh para ulama Wahabi dan diyakini oleh para pengikutnya tidak jauh berbeda dengan fitur Imam Mahdi yang dipercayai kalangan Sunni. Perbedaannya, ada beberapa Hadist yang mereka dhaifkan, tetapi tidak didhaifkan oleh ulama Sunni.
Yang menarik di sini, justru kaum Salafi Wahabi yang membela kepercayaan akan datangnya Imam Mahdi dari penolakan Ibnu Khaldun, padahal figur Imam Mahdi lebih kuat di kalangan Syi'ah daripada Wahabi dan Sunni.
Dengan demikian, dalam hal kemunculan Imam Mahdi di Akhir Zaman, adalah sama di antara jumhur Ulama Sunni, Syi'ah dan Salafi Wahabi.