Falsafah Bendo

photo author
Wandi Ruswannur, Journal Nusantara
- Minggu, 5 Maret 2023 | 06:01 WIB
Ilustrasi penguasa (KOMPAS/JITET)
Ilustrasi penguasa (KOMPAS/JITET)

Oleh : Entang Sastraatmadja (Penulis, Ketua Harian DPD HKTI Jawa Barat)

Dalam sebuah diskusi sekitar 3 tahun lalu, sesepuh perempuan Jawa Barat Ceu Popong yang sempat menjadi Wakil Rakyat selama 5 periode di DPR RI, sempat menegaskan bahwa masyarakat itu tergantung penguasa. Dalam bahasa lain nya "rahayat mah kumaha nu di bendo".

Pertanyaan selanjut nya adalah "kumaha ari nu di bendo na" ? Bagaimana dengan penguasa nya ?

Pengungkapan nilai-nilai budaya Sunda yang diutarakan Ceu Popong diatas, pada hakekat nya memberi "warning" kepada kita bahwa dalam melakoni pembangunan selama ini, apa-apa yang diinginkan rakyat, ujung-ujung nya akan sangat ditentukan oleh penyikapan para penguasa terhadap aspirasi rakyat tersebut.

Baca Juga: Hedonisme Pejabat Publik

"Nu di bendo" memang masih segala nya. Keinginan rakyat belum tentu sama dengan harapan penguasa. Kalau rakyat menyukai aksi unjuk rasa sekira nya ada hal- hal menyakiti hati nurani nya, belum tentu penguasa menyenangi aksi rakyat turun ke jalan.

Kalau tiba-tiba pupuk bersubsidi hilang dari pasaran, lalu para petani datang rame-rame ke DPR, maka belum tentu gerakan ini satu nafas dengan mau nya penguasa. Akibat nya wajar, bila kemudian ada pihak yang menyatakan, antara aspirasi rakyat dengan sikap penguasa, identik dengan harapan dan kenyataan. Idealisme dan realisme.

Slogan "kumaha nu di bendo" dalam mengarungi kehidupan berbangsa, bernegara dan bermasyarakat, jelas bukan hal yang perlu untuk dilestarikan. Yang harus dicarikan solusi cerdas nya adalah bagaimana cara nya agar yang di bendo dan yang tidak di bendo, mampu memiliki sikap, tindakan dan wawasan yang sama terhadap penyelenggaran pembangunan.

Mind-set kedua nya penting di satu pikirkan dan di satu hatikan. Tidak boleh ada sekat. Apalagi diciptakan jarak kehidupan. Dalam nilai-nilai kesundaan, dikenal juga istilah "someah". Arti nya perilaku yang menghargai keberadaan para pendatang. Dalam bahasa "kirata" (dikira-kira nyata), someah itu memiliki makna "hade ka semah" (baik kepada tamu).

Arti nya jika kita harus berperilaku baik kepada tamu, maka harus lebih bail lagi kepada yang bukan tamu. Itu sebab nya, bila seseorang didaulat untuk menjadi yang dibendo, maka diri nya tidak boleh "adigung" atau sombong. Justru sebalik nya yang berbendo itu harus mampu "menyatukan sikap" dengan yang memberi bendo nya.

Bendo adalah sebuah kiasan kepemimpinan yang bakal diberikan kepada seseorang yang "masagi" atau sosok nanusia yang mesti nya paripurna. Penerima bendo harus mampu menampilkan kehidupan yang sederhana, dekat dengan rakyat dan tentu saja harus mampu menghindari diri dari sikap angkuh, sombong dan merasa paling pinter.

Rakyat tidak butuh sosok manusia yang "guminter" (merasa paling pinter), namun masyarakat senantiasa menunggu hadir nya sosok yang cakap dan cerdas. Rakyat tidak memerlukan orang yang sombong, namun yang ditunggu-tunggu masyarakat adalah manusia yang mampu menyelami hati rakyat. Itu sebab nya, yang dibendo perlu memahami kearifan lokal dan mau menjalani nya.

Baca Juga: Wapres dan Menteri BUMN Datangi Lokasi Kebakaran Depo Pertamina Jakarta Utara

Seiring dengan perjalanan waktu, menjadi yang dibendo, rupa nya membutuhkan cost politik yang semakin mahal. Untuk menjadi Gubernur di pulau Jawa, boleh jadi akan membutuhkan dana puluhan milyar rupiah.

Halaman:
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Editor: Wandi Ruswannur

Tags

Artikel Terkait

Rekomendasi

Terkini

Korupsi Musuh Pancasila

Senin, 1 Juni 2026 | 17:49 WIB

Lima Sila sebagai Lima Luka

Senin, 1 Juni 2026 | 08:25 WIB

Refleksi Tentang Kesetaraan Gender

Sabtu, 30 Mei 2026 | 08:53 WIB

Qurban dan Kepedulian Sosial

Selasa, 26 Mei 2026 | 21:04 WIB

Dua Wajah Indonesia

Selasa, 26 Mei 2026 | 04:34 WIB

Mengapa Indonesia Sulit Maju?

Minggu, 24 Mei 2026 | 08:07 WIB

Rekacipta Indonesia

Sabtu, 23 Mei 2026 | 08:16 WIB

Perangai Islam Ilmiah

Sabtu, 23 Mei 2026 | 08:13 WIB

Sistem AHWA dalam Pemilihan Ketua Umum PBNU

Jumat, 22 Mei 2026 | 05:29 WIB
X