Menagih Janji atau Memperpanjang Kuasa? Menimbang Kembali Niat Gus Yahya Maju di Muktamar NU ke-35

photo author
M Wawan, Journal Nusantara
- Senin, 20 Juli 2026 | 20:41 WIB
Gus Yahya. (FOTO: Ist)
Gus Yahya. (FOTO: Ist)

Isu diplomasi internasional yang diusung di bawah kepemimpinan Gus Yahya telah membentur tembok sensitivitas teologis dan politik luar negeri warga Nahdliyin:

Legitimasi Narasi Musuh: Langkah diplomasi atas nama "Kemanusiaan (Rahmah)" tanpa syarat tegas menolak penjajahan di Palestina justru membuka celah bagi propaganda Zionis Israel untuk memanfaatkan NU sebagai alat soft-diplomacy (pencucian citra). Di tengah eskalasi kekerasan dan kejahatan kemanusiaan yang dialami rakyat Palestina, narasi "perdamaian abstrak" dinilai naif dan tidak berpijak pada penderitaan nyata korban penjajahan.

Blunder Organisasi yang Memalukan: Puncak dari kerapuhan kontrol ideologis ini adalah insiden keberangkatan lima kader NU menemui Presiden Israel. Peristiwa ini bukan sekadar "kekhilafan individu", melainkan bukti kegagalan sistemik kepemimpinan PBNU dalam menanamkan sensitivitas perjuangan dan membentengi kader dari infiltrasi agenda asing. Pertemuan tersebut mencederai solidaritas NU terhadap perjuangan Palestina serta merusak kepercayaan publik dan dunia Islam internasional terhadap posisi moral NU yang selama ini konsisten menolak segala bentuk penjajahan.

Penyimpangan dari Qanun Asasi dan Amanat Muassis: Bagi para kiai sepuh dan pengasuh pesantren, keterlibatan dan kelonggaran narasi terhadap pihak Zionis bukan sekadar masalah tata kelola organisasi, melainkan pelanggaran mendasar terhadap Qanun Asasi yang dirumuskan oleh Hadratussyaikh KH Hasyim Asy'ari. Qanun Asasi menegaskan kewajiban untuk menegakkan keadilan, membela pihak yang tertindas (al-mazhlum), dan menolak segala bentuk kedzaliman (al-zhulm). Sikap kompromistis atau diplomasi yang mengaburkan status Israel sebagai pihak penjajah dinilai melenceng dari ajaran dasar para pendiri NU.

Muktamar NU ke-35: Jalan Pulang ke Sanad Perjuangan Mbah Hasyim Asy'ari

Niat KH Yahya Cholil Staquf (Gus Yahya) untuk mencalonkan diri kembali pada Muktamar NU ke-35 dinilai lebih mencerminkan ambisi mempertahankan kekuasaan ketimbang komitmen tulus untuk melunasi janji organisasi.

Muktamar bukanlah ajang untuk memberikan dispensasi kepada seorang pemimpin yang gagal memenuhi janjinya. Muktamar adalah forum untuk evaluasi dan koreksi, tempat warga NU menentukan masa depan organisasi melalui kepemimpinan baru yang lebih segar dan berintegritas. Jika Gus Yahya benar-benar mencintai NU, seharusnya ia menerima keputusan muktamar dengan lapang dada dan menyerahkan estafet kepemimpinan kepada kader yang lebih mumpuni, bukannya memaksakan diri dengan dalih "menyelesaikan janji" yang justru terkesan sebagai upaya mempertahankan status quo dan melanggengkan kekuasaan.

Langkah-langkah yang memicu persepsi kompromi terhadap Zionisme telah merusak hubungan emosional NU dengan bangsa Palestina serta menurunkan kepercayaan umat Islam global terhadap posisi moral NU.

Pencalonan kembali Gus Yahya dipandang sebagai bentuk disorientasi kepemimpinan yang mencederai amanat Qanun Asasi Mbah Hasyim Asy'ari. Oleh karena itu, Muktamar NU ke-35 dinilai memerlukan rotasi kepemimpinan baru yang lebih segar, berpegang teguh pada tuntunan Syuriyah, dan fokus pada pelayanan warga Nahdliyin di akar rumput.

Halaman:
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizinĀ redaksi.

Editor: M Wawan

Tags

Artikel Terkait

Rekomendasi

Terkini

Sesudah Perayaan

Selasa, 21 Juli 2026 | 07:13 WIB

Kedaulatan Pangan Dimulai dari Desa

Sabtu, 18 Juli 2026 | 19:49 WIB

Mendadak Tua

Sabtu, 18 Juli 2026 | 04:47 WIB

Pagi, Aku Tak Berarti?

Sabtu, 11 Juli 2026 | 05:45 WIB

Jalan Tangguh Iran

Sabtu, 4 Juli 2026 | 12:43 WIB

Saat Regenerasi Menemukan Namanya: Isfhan

Sabtu, 4 Juli 2026 | 12:32 WIB

Menyiapkan Sekoci bagi Penumpang Kapal Retak

Kamis, 2 Juli 2026 | 14:04 WIB
X