Hari Jadi Cianjur ke-349: Ketika Ngaos, Mamaos, dan Maenpo Menjadi Cermin Pembangunan

photo author
M Wawan, Journal Nusantara
- Sabtu, 11 Juli 2026 | 20:49 WIB
Doddie FT, Dosen UNPI Cianjur (FOTO: Istimewa)
Doddie FT, Dosen UNPI Cianjur (FOTO: Istimewa)

Maenpo mengajarkan bahwa kekuatan sejati bukan terletak pada kemampuan mengalahkan lawan, tetapi pada kemampuan mengendalikan kepentingan pribadi demi kepentingan yang lebih besar.

Jika ketiga nilai tersebut benar-benar menjadi roh pembangunan, maka Cianjur akan tumbuh sebagai daerah yang bukan hanya maju secara ekonomi, tetapi juga matang secara sosial dan bermartabat secara moral.

Namun refleksi tidak boleh berhenti pada romantisme budaya. Cianjur hari ini masih menghadapi persoalan nyata yang membutuhkan keberanian untuk diselesaikan bersama.

Tingkat kesejahteraan masyarakat masih perlu ditingkatkan. Kesempatan kerja bagi generasi muda harus terus diperluas. Alih fungsi lahan pertanian menjadi kawasan industri perlu dikendalikan agar ketahanan pangan tetap terjaga.

Persoalan sampah, kualitas lingkungan hidup, hingga pemerataan pembangunan antarwilayah masih menjadi tantangan yang harus dijawab melalui kebijakan yang berkelanjutan.

Di sisi lain, transformasi digital membuka peluang sekaligus ancaman. Generasi muda memiliki akses informasi yang sangat luas, tetapi tanpa karakter yang kuat, kemajuan teknologi justru dapat mengikis identitas budaya.

Di sinilah filosofi Ngaos, Mamaos, dan Maenpo menemukan relevansinya. Nilai-nilai tersebut bukan untuk menghambat modernisasi, melainkan menjadi kompas agar kemajuan tidak membuat masyarakat kehilangan arah.

Tema Hari Jadi Cianjur ke-349, "Rahayat Raksa Raharja", semestinya tidak berhenti sebagai slogan tahunan.

Makna "melindungi rakyat menuju kesejahteraan" harus diterjemahkan dalam kebijakan yang benar-benar dirasakan manfaatnya oleh masyarakat: pelayanan publik yang cepat, pendidikan yang berkualitas, layanan kesehatan yang mudah dijangkau, perlindungan terhadap petani dan pelaku UMKM, penciptaan lapangan kerja, serta pengelolaan lingkungan yang bertanggung jawab.

Sebagai akademisi, saya memandang bahwa keberhasilan pembangunan tidak cukup diukur melalui panjangnya jalan yang dibangun atau tingginya angka investasi.

Pembangunan sejati adalah ketika masyarakat semakin cerdas, semakin sehat, semakin produktif, semakin beretika, dan memiliki harapan yang lebih baik terhadap masa depan.

Pemerintah tidak dapat berjalan sendiri. Kampus harus menjadi pusat lahirnya gagasan. Dunia usaha harus menjadi penggerak ekonomi yang berkeadilan. Tokoh agama dan budayawan harus menjaga nilai-nilai luhur.

Masyarakat sipil harus tetap kritis sekaligus konstruktif. Kolaborasi inilah yang akan melahirkan Cianjur yang kuat menghadapi tantangan zaman.

Usia 349 tahun juga mengingatkan bahwa setiap generasi memiliki tanggung jawab sejarah. Kita menikmati hasil perjuangan para pendahulu, tetapi generasi setelah kita akan menilai apa yang kita wariskan kepada mereka.

Apakah kita mewariskan lingkungan yang lestari atau kerusakan? Apakah kita meninggalkan budaya yang hidup atau sekadar cerita? Apakah kita membangun pemerintahan yang dipercaya atau hanya meninggalkan tumpukan proyek?

Halaman:
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizinĀ redaksi.

Editor: M Wawan

Tags

Artikel Terkait

Rekomendasi

Terkini

Pagi, Aku Tak Berarti?

Sabtu, 11 Juli 2026 | 05:45 WIB

Jalan Tangguh Iran

Sabtu, 4 Juli 2026 | 12:43 WIB

Saat Regenerasi Menemukan Namanya: Isfhan

Sabtu, 4 Juli 2026 | 12:32 WIB

Menyiapkan Sekoci bagi Penumpang Kapal Retak

Kamis, 2 Juli 2026 | 14:04 WIB

Wahai Mentari Pagi!

Rabu, 1 Juli 2026 | 07:46 WIB

Mencegah Korupsi di Tatar Santri

Selasa, 30 Juni 2026 | 19:34 WIB

Yang Harus Digali DPRD Cianjur atas Raperda P2APBD

Minggu, 28 Juni 2026 | 09:30 WIB

Obor Hijriah Perangi Korupsi

Selasa, 16 Juni 2026 | 20:05 WIB
X