JOURNALNUSANTARA.COM - Di tengah zaman yang bising oleh opini dan banjir informasi, manusia sering terjebak pada satu ukuran: siapa yang paling pintar, paling cepat bicara, atau paling dominan di ruang publik. Namun dalam kearifan Nusantara, ada satu konsep yang justru melampaui semua itu
waskito.
Waskito bukan sekadar kecerdasan. Ia adalah kejernihan. Ia adalah kemampuan melihat lebih dalam dari yang tampak, membaca realitas tidak hanya dengan akal, tetapi juga dengan hati yang terlatih dan bersih.
Dalam perspektif spiritual Islam, terutama dalam tradisi Tasawuf, kualitas ini dekat dengan apa yang disebut sebagai basyiroh /mata hati yang mampu menangkap kebenaran di balik permukaan.
Orang waskito tidak selalu menonjol. Ia sering hadir dalam diam. Namun justru dalam diam itulah ketajamannya bekerja. Ia tidak mudah terpancing, tidak reaktif, dan tidak tergesa-gesa dalam mengambil kesimpulan. Di saat banyak orang sibuk menilai dari kulit luar, ia menembus hingga ke inti persoalan.
Dalam praktik kehidupan, orang waskito mampu membaca situasi secara utuh. Ia paham bahwa setiap ucapan memiliki maksud, setiap peristiwa memiliki lapisan makna. Keputusannya tidak lahir dari impuls, tetapi dari perenungan.
Karena itu, langkahnya cenderung tepat bukan karena ia tahu segalanya, tetapi karena ia memahami dengan dalam.
Yang perlu diluruskan, waskito bukanlah kemampuan supranatural. Ia bukan soal mengetahui hal-hal gaib secara mutlak, apalagi menjadi semacam “orang sakti”. Pemahaman seperti ini justru menyesatkan.
Waskito adalah hasil dari proses panjang: pengalaman hidup, ketajaman refleksi, dan yang paling utama kejernihan hati.
Dalam tradisi pesantren, sosok seperti ini sering kita jumpai pada para kiai sepuh. Mereka tidak banyak bicara, tetapi setiap kalimatnya mengandung arah. Mereka tidak tampil mencolok, tetapi kehadirannya menjadi rujukan. Ini bukan karena kelebihan intelektual semata, melainkan karena kedalaman batin yang terasah.
Di titik inilah, waskito menjadi relevan bahkan mendesak di era sekarang. Ketika kebisingan sering mengalahkan kebenaran, ketika kecepatan sering mengalahkan kedalaman, dan ketika penampilan sering menipu kenyataan, yang dibutuhkan bukan sekadar orang pintar, tetapi orang yang benar-benar mengerti.
Mengerti kapan harus bicara dan kapan harus diam.
Mengerti mana yang penting dan mana yang hanya gaduh.
Mengerti arah, di tengah dunia yang kehilangan kompas.
Waskito adalah tentang melihat dengan jernih, bersikap dengan tenang, dan bertindak dengan bijak.
Dan mungkin, di tengah dunia yang semakin gaduh ini, yang kita butuhkan bukan lebih banyak suara tetapi lebih banyak kejernihan.
Bey Arifin
Pengurus IKAPETE Jombang
Artikel Terkait
Pendaftaran Jaka Rara Kota Cirebon 2026 Resmi Dibuka, Simak Persyaratan dan Cara Daftar Lengkapnya
Mutiara Pagi: Di Tanah Bernama Iran (Bagian 2177)
Negara Cerdas
Inspirasi Karina Moudy di KPK: Integritas Bukan Sekadar Kata Namun Perilaku Sehari-hari
Pererat Silaturahmi, HMI dan KAHMI Cianjur Gelar Fun Walk dan Halal Bihalal
Mutiara Pagi: Barbarisme Moral (Bagian 2178)
Ketika Rp. 76 Miliar Hanya Menghasilkan 29 Km Jalan Kabupaten: Mengapa Ada Selisih Potensi 5 Kilometer?
Persiapan Bakti Polda Jabar, Kapolres Cianjur Tinjau Jalur Pendakian Gunung Gede
Sempat Terkendala Masalah Server Pusat, TKA SMP di Cianjur Kini Masuk Gelombang Lanjutan
Analisis Kritis dan Solusi Implementasi Makan Bergizi Gratis di Daerah