Oleh: Dr. Dudy Imanuddin Efffendi, M.Ag
Bandung, 20 Desember 2025. Militansi tidak selalu identik dengan kekerasan atau sikap ekstrem. Dalam pandangan filsafat, militansi justru dapat dipahami sebagai keteguhan etis, kesadaran eksistensial, dan komitmen ontologis terhadap nilai yang diyakini. Militansi adalah keberanian untuk setia pada kebenaran, konsisten dalam laku, dan tegak dalam prinsip, sebagaimana diajarkan dalam "Panca Dharma Perguruan Silat Tadjimalela", yang menempatkan kekuatan bukan semata pada fisik, tetapi pada watak dan jiwa.
Dalam pandangan Aristoteles, militansi berakar pada "arete" dan "ethos". Manusia yang militan adalah manusia yang melatih dirinya secara terus-menerus agar bertindak sesuai dengan kebajikan, menemukan jalan tengah antara kelemahan dan keberlebihan. Militansi bukan ledakan emosi, melainkan disiplin karakter yang mengarah pada "eudaimonia", kehidupan yang baik dan bermakna. Spirit ini sejalan dengan "Dharma pengendalian diri dan keluhuran budi" dalam Panca Dharma, di mana pesilat Tadjimalela ditempa untuk teguh, sabar, dan adil dalam laku hidup.
Sementara itu, Jean-Paul Sartre memandang militansi sebagai konsekuensi dari kebebasan radikal manusia. Manusia “dikutuk untuk bebas”, dan karena itu bertanggung jawab penuh atas pilihan-pilihannya. Militansi, dalam perspektif Sartre, adalah keberanian eksistensial untuk memilih dan bertindak, meski tanpa jaminan, tanpa kepastian, dan tanpa perlindungan norma mayoritas. Sikap ini menolak kepasrahan dan kepura-puraan (bad faith). Dalam Panca Dharma Tadjimalela, semangat ini tercermin dalam dharma tanggung jawab dan keberanian moral, di mana pesilat diajarkan untuk tidak bersembunyi di balik kekuatan, jabatan, atau kelompok, tetapi berdiri sebagai pribadi yang bertanggung jawab atas setiap tindakan.
Adapun Martin Heidegger memahami militansi sebagai proses menuju keberadaan yang otentik (eigentliches Dasein). Militansi adalah keberanian untuk keluar dari anonimitas "das Man", kehidupan yang sekadar mengikuti “kata orang”, “kebiasaan”, dan “arus umum”. Manusia militan adalah manusia yang sadar akan kefanaannya, sehingga hidup dengan kesungguhan, keteguhan, dan kesadaran makna. Nilai ini bersenyawa dengan dharma kesadaran diri dan kesetiaan pada kebenaran dalam Panca Dharma Tadjimalela, yang menuntut pesilat untuk tegak seperti gunung, tidak goyah oleh tekanan, tidak larut dalam kebisingan, dan tidak kehilangan jati diri.
Di titik inilah militansi menjadi jalan pengasahan diri, mengalir seperti air dalam ketulusan, bersinar seperti matahari dalam manfaat, dan tegak seperti gunung dalam prinsip. Militansi yang menrefleksikan manusia das sein dan das sollen sekaligus dalam "TA (Taklukan nafsu jahat dalam diri), DJI (Djiwa murni pangkal keluhuran budi), MA (Mantapkan rasa penyerahan diri terhadap Tuhan), LE (Lekatkan keberanian ditaraf kebenaran), dan LA (Lapangkan rasa kerendahan hati dimata kesombongan)." Inilah ontologi militansi perspektif filsafat dalam Organisasi Tadjimalela.
Penulis: Wadek I Fakultas Dakwah dan Komunikasi UIN Sunan Gunung Djati Bandung
Artikel Terkait
Head to Head Persib vs Bhayangkara FC, Maung Bandung Siap Jaga Keangkeran GBLA
Istri yang Mencium Suami dengan Kasih Sayang, Ibarat Menghatamkan Al-Quran
Cek Fakta, Kabar Beredarnya Pedangdut Soimah Pancawati Meninggal Dunia di Medsos
Manfaat Mengkonsumsi Garam Sebelum Tidur Salahsatunya Bisa Meningkatkan Kualitas Tidur
Dua Kader Kopri PK PMII STAI Al-Azhary Cianjur Ikuti Sekolah Kader Kopri (SKK) IV
Mutiara Pagi: Selamat Hari Ibu (Bagian 2066)
Persib Langkahi Persija di Klasemen Super League usai Benamkan Bhayangkara FC
UPDATE Harga Emas Pegadaian Hari Ini, 22 Desember 2025: Produk UBS dan Galeri24 Tidak Bergerak
Alhamdulillah, Bansos BPNT Tahap 4 Cair Desember 2025, Segera Cek Status Penerima Sekarang
RAMALAN Zodiak Hari Ini, 22 Desember 2025: Aries Harus Cermat, Taurus Jauhkan Rasa Bimbang, dan Gemini Dapat Rezeki Nomplok