Bulan Cahaya Cinta

photo author
M Wawan, Journal Nusantara
- Sabtu, 13 Desember 2025 | 10:58 WIB
Ilustrasi cahaya pelangi, cerita rakyat. (pixabay/kanenori)
Ilustrasi cahaya pelangi, cerita rakyat. (pixabay/kanenori)

Oleh: Yudi Latif

Kembali Desember hadir, menyalakan ulang bel pengingat di relung batin: hanya mahadaya cinta yang membuat kemanusiaan tumbuh. Mengetuk “pintu” Tuhan dengan getar kasih adalah akar dari seluruh kehidupan; mengetuk “pintu” sesama dengan welas asih adalah buah yang meneguhkan keberadaan kita sebagai manusia.

Agama menyeru kita menumbuhkan cinta agape seperti sinar mentari yang memeluk siapa pun tanpa memilih. Namun di tanah kenyataan, kasih manusia sering berdiam di ruang yang sempit. Altruisme mudah menyala bagi mereka yang satu warna kulit, satu nilai, satu identitas; tetapi terhadap “yang lain”, prasangka xenophobia kerap tumbuh seperti bayang yang tak diundang.

Agar rahmat dapat menembus batas-batas identitas, cinta agape perlu ditopang oleh kelembagaan kasih jaringan konektivitas yang merekatkan ragam manusia dalam kepentingan bersama menjaga harmoni dan keadilan sosial-ekonomi.

Wallace pernah menyaksikan keajaiban itu di Dobo, Kepulauan Aru, tahun 1857. Di simpang angin dan lautan, perjumpaan ras dan etnis berlangsung tenteram, dijaga rasa kebersamaan dalam perdagangan yang jujur. “Berbagai macam manusia hidup di sini,” tulisnya, “tanpa bayang-bayang hukum pemerintah tanpa polisi, pengadilan, atau pengacara namun mereka tidak saling menebas tenggorokan, tidak saling merampas, tidak tenggelam dalam anarki.

Luar biasa! Membuat kita heran, betapa beratnya beban pemerintahan Eropa, seakan kita terlalu diatur. Kita merasa kecil di hadapan Dobo yang peraturannya sedikit, sementara Inggris memiliki hukum yang terlalu banyak.”

Namun konektivitas saja tak cukup; jaringan itu harus ditopang inklusivitas kesetaraan akses pada pendidikan, kesehatan, usaha, layanan publik, partisipasi politik, dan keadilan hukum. Ketika sumber daya dimonopoli, cinta berubah menjadi pagar pertahanan diri, melahirkan kecemburuan dan keretakan sosial.

Konektivitas dan inklusivitas itu membutuhkan satu simpul terakhir: ikatan moral publik. Sebab moralitaslah yang menyatukan manusia integritas etis yang menegakkan saling percaya, tempat di mana cinta akhirnya menemukan semen perekat peradabannya.

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizinĀ redaksi.

Editor: M Wawan

Tags

Artikel Terkait

Rekomendasi

Terkini

Kedaulatan Pangan Dimulai dari Desa

Sabtu, 18 Juli 2026 | 19:49 WIB

Mendadak Tua

Sabtu, 18 Juli 2026 | 04:47 WIB

Pagi, Aku Tak Berarti?

Sabtu, 11 Juli 2026 | 05:45 WIB

Jalan Tangguh Iran

Sabtu, 4 Juli 2026 | 12:43 WIB

Saat Regenerasi Menemukan Namanya: Isfhan

Sabtu, 4 Juli 2026 | 12:32 WIB

Menyiapkan Sekoci bagi Penumpang Kapal Retak

Kamis, 2 Juli 2026 | 14:04 WIB

Wahai Mentari Pagi!

Rabu, 1 Juli 2026 | 07:46 WIB

Mencegah Korupsi di Tatar Santri

Selasa, 30 Juni 2026 | 19:34 WIB
X