Rekonfirmasi dan Penegasan Thariqah sebagai Warisan Walisongo

photo author
Wandi Ruswannur, Journal Nusantara
- Rabu, 25 Juni 2025 | 20:00 WIB
Ilustrasi Wali Songo (Foto: Istimewa)
Ilustrasi Wali Songo (Foto: Istimewa)

Refleksi atas Tausiyah Prof. Dr. KH. Ali Masykur Musa (Mudir ‘Aly Idarah ‘Aliyah JATMAN) dalam Haul Akbar Walisongo oleh NAAT DIY Madura, Pamekasan

Oleh: Abdur Rahman El Syarif

“Thariqah bukanlah aksen tambahan dalam tubuh Islam Nusantara, tetapi ia adalah denyut jantung dari misi dakwah Walisongo.”
— Prof. Dr. KH. Ali Masykur Musa, 2025

Tausiyah Prof. Dr. KH. Ali Masykur Musa dalam Haul Akbar Walisongo di Pamekasan bukan sekadar orasi keilmuan, melainkan suluh ruhani yang menyinari kembali akar-akar spiritual Islam Nusantara.

Sebagai Mudir ‘Aly Idarah ‘Aliyah JATMAN, beliau tampil bukan hanya sebagai ulama tarekat dan akademisi, tetapi juga sebagai penjaga mata air warisan Walisongo sebuah warisan yang bukan hanya historis, tetapi hidup, berdetak, dan membimbing zaman.

Tulisan ini merupakan refleksi dari pesan-pesan utama beliau, yang menyeru kita semua untuk merekonfirmasi dan menegaskan kembali posisi thariqah sebagai warisan sah dan mulia dari para wali penyebar Islam di Nusantara.

Thariqah: Saripati Dakwah, Bukan Aksesoris

Dalam narasi sejarah yang jujur, Walisongo bukan sekadar muballigh atau penguasa simbolik kebudayaan. Mereka adalah arsitek peradaban Islam di bumi Nusantara menggabungkan kedalaman spiritual, strategi sosial, dan kebijaksanaan transformasional.

Prof. Ali Masykur menegaskan bahwa thariqah bukan ajaran tambahan atau ornamen spiritual, melainkan jalan hidup yang mereka tempuh. Dzikir, riyadhah, suluk, dan adab bukanlah pelengkap; ia adalah medium utama yang membentuk karakter Islam Nusantara: lembut namun tegas, inklusif namun berprinsip kuat.

Sanad Ruhaniyah: Thariqah dan Legitimasi Tradisi

Rekonfirmasi thariqah sebagai warisan Walisongo tidak cukup hanya dengan romantisme sejarah. Harus ada landasan ruhani dan intelektual dan itulah yang ditunjukkan oleh sanad.

Dalam pandangan Prof. Ali Masykur, sanad adalah silsilah an-nur rantai cahaya yang menghubungkan murid dengan Rasulullah SAW melalui bimbingan ruhani para mursyid.

Walisongo seperti Sunan Bonang, Kalijaga, dan Giri memiliki koneksi intelektual dan spiritual ke pusat-pusat tarekat besar dunia Islam seperti Samarkand, Gujarat, dan Hijaz.

Oleh karena itu, thariqah sebagai warisan Walisongo bersandar pada otoritas ilmiah dan spiritual yang dapat diverifikasi—bukan sekadar kepercayaan lisan, melainkan juga terhimpun dalam manuskrip dan riwayat yang kuat.

Halaman:
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizinĀ redaksi.

Editor: Wandi Ruswannur

Tags

Artikel Terkait

Rekomendasi

Terkini

Korupsi Musuh Pancasila

Senin, 1 Juni 2026 | 17:49 WIB

Lima Sila sebagai Lima Luka

Senin, 1 Juni 2026 | 08:25 WIB

Refleksi Tentang Kesetaraan Gender

Sabtu, 30 Mei 2026 | 08:53 WIB

Qurban dan Kepedulian Sosial

Selasa, 26 Mei 2026 | 21:04 WIB

Dua Wajah Indonesia

Selasa, 26 Mei 2026 | 04:34 WIB

Mengapa Indonesia Sulit Maju?

Minggu, 24 Mei 2026 | 08:07 WIB

Rekacipta Indonesia

Sabtu, 23 Mei 2026 | 08:16 WIB

Perangai Islam Ilmiah

Sabtu, 23 Mei 2026 | 08:13 WIB

Sistem AHWA dalam Pemilihan Ketua Umum PBNU

Jumat, 22 Mei 2026 | 05:29 WIB
X