Refleksi atas Tausiyah Prof. Dr. KH. Ali Masykur Musa (Mudir ‘Aly Idarah ‘Aliyah JATMAN) dalam Haul Akbar Walisongo oleh NAAT DIY Madura, Pamekasan
Oleh: Abdur Rahman El Syarif
“Thariqah bukanlah aksen tambahan dalam tubuh Islam Nusantara, tetapi ia adalah denyut jantung dari misi dakwah Walisongo.”
— Prof. Dr. KH. Ali Masykur Musa, 2025
Tausiyah Prof. Dr. KH. Ali Masykur Musa dalam Haul Akbar Walisongo di Pamekasan bukan sekadar orasi keilmuan, melainkan suluh ruhani yang menyinari kembali akar-akar spiritual Islam Nusantara.
Sebagai Mudir ‘Aly Idarah ‘Aliyah JATMAN, beliau tampil bukan hanya sebagai ulama tarekat dan akademisi, tetapi juga sebagai penjaga mata air warisan Walisongo sebuah warisan yang bukan hanya historis, tetapi hidup, berdetak, dan membimbing zaman.
Tulisan ini merupakan refleksi dari pesan-pesan utama beliau, yang menyeru kita semua untuk merekonfirmasi dan menegaskan kembali posisi thariqah sebagai warisan sah dan mulia dari para wali penyebar Islam di Nusantara.
Thariqah: Saripati Dakwah, Bukan Aksesoris
Dalam narasi sejarah yang jujur, Walisongo bukan sekadar muballigh atau penguasa simbolik kebudayaan. Mereka adalah arsitek peradaban Islam di bumi Nusantara menggabungkan kedalaman spiritual, strategi sosial, dan kebijaksanaan transformasional.
Prof. Ali Masykur menegaskan bahwa thariqah bukan ajaran tambahan atau ornamen spiritual, melainkan jalan hidup yang mereka tempuh. Dzikir, riyadhah, suluk, dan adab bukanlah pelengkap; ia adalah medium utama yang membentuk karakter Islam Nusantara: lembut namun tegas, inklusif namun berprinsip kuat.
Sanad Ruhaniyah: Thariqah dan Legitimasi Tradisi
Rekonfirmasi thariqah sebagai warisan Walisongo tidak cukup hanya dengan romantisme sejarah. Harus ada landasan ruhani dan intelektual dan itulah yang ditunjukkan oleh sanad.
Dalam pandangan Prof. Ali Masykur, sanad adalah silsilah an-nur rantai cahaya yang menghubungkan murid dengan Rasulullah SAW melalui bimbingan ruhani para mursyid.
Walisongo seperti Sunan Bonang, Kalijaga, dan Giri memiliki koneksi intelektual dan spiritual ke pusat-pusat tarekat besar dunia Islam seperti Samarkand, Gujarat, dan Hijaz.
Oleh karena itu, thariqah sebagai warisan Walisongo bersandar pada otoritas ilmiah dan spiritual yang dapat diverifikasi—bukan sekadar kepercayaan lisan, melainkan juga terhimpun dalam manuskrip dan riwayat yang kuat.
Artikel Terkait
Perpustakaan Digital Pustaka Azzam Hadirkan Ratusan Koleksi Kitab Terjemahan Lengkap
Sekapur Sirih 7 Hari Wafatnya Hj. Euis Nurlaila binti KH. Idam Damiri
Kajian Islam Jadi Wisata Religi, Kenapa Tidak?
Mutiara Pagi: Tetaplah Menyala (Bagian 1880)
Perkuat Peran Strategis Alumni, PP IKA UIN SGD Bandung Gelar Rapat Kerja
Kesempatan Karir di Industri Perjalanan Spiritual, Dibutuhkan Sales dan Marketing untuk Travel Umroh di Bandar Lampung
Kang Dedi Mulyadi: Pemimpin Kreatif yang Hadir, Mendengar, dan Menginspirasi Lewat Konten Digital
Mutiara Pagi: Jejak (Bagian: 1881)
Felix Siauw yang Culas: Membongkar Kesesatan Berpikir Soal Iran dan Palestina
Mutiara Pagi: Lintasan Hati (Bagian 1882)