Semilir Angin dari Lembah Taubat

photo author
Wandi Ruswannur, Journal Nusantara
- Sabtu, 15 Maret 2025 | 06:27 WIB
Mohamad Sinal
Mohamad Sinal


Oleh Mohamad Sinal

Ada angin yang tak sekadar menyentuh kulit, tetapi menyusup ke relung jiwa. Ia menggetarkan hati yang lama membatu. Ia adalah angin dari lembah taubat, membawa kesejukan bagi yang dahaga akan ampunan.

Menggugurkan debu-debu dosa yang telah menempel dalam perjalanan panjang kehidupan. Di lembah ini, manusia bersimpuh dan menyadari kefanaannya. Menumpahkan segala resah kepada Sang Pengampun.

Dalam perjalanan hidup yang penuh onak dan duri, terkadang kita tersesat dalam belantara dunia. Godaan membentang di setiap sudut jalan, mengajak kita berpaling dari cahaya. Namun, kasih sayang Tuhan tak berbatas.

Seperti yang disabdakan dalam hadis qudsi: "Wahai hamba-Ku, jika engkau mendatangi-Ku dengan kesalahan sebesar langit dan bumi, tetapi engkau tidak menyekutukan-Ku, niscaya Aku akan mendatangimu dengan ampunan sebesar itu pula." Inilah lembah taubat, tempat di mana manusia belajar merendahkan diri. Memohon agar dikembalikan kepada fitrahnya yang suci.

Meraba Jejak Kesalahan, Menjemput Cahaya

Manusia adalah makhluk yang tak luput dari salah dan khilaf. Kadang, langkah kaki melenceng, hati terbuai oleh bujuk rayu dunia, dan lisan terlepas dalam dusta. Namun, Tuhan memberi kesempatan bagi siapa saja yang ingin kembali.

Dia adalah At-Tawwab, Yang Maha Menerima Taubat. Jalaluddin Rumi pernah menulis:

"Come, come, whoever you are,
Wanderer, worshiper, lover of leaving—
It doesn’t matter.
Ours is not a caravan of despair.
Come, even if you have broken your vows a thousand times.
Come, come again, come."

("Datanglah, datanglah, siapa pun dirimu,
Pengembara, penyembah, pecinta perpisahan—
Itu tidak masalah.
Kafilah kita bukanlah kafilah keputusasaan.
Datanglah, meskipun engkau telah melanggar janjimu seribu kali.
Datanglah, datang lagi, datanglah.")

Seruan ini menggema di lembah taubat, mengingatkan bahwa rahmat Allah lebih luas dari samudra kesalahan manusia. Selama ruh masih bersemayam di jasad, selama lisan masih mampu mengucap istighfar, jalan pulang selalu terbuka. Bukan kehinaan yang menanti mereka yang bertobat, tetapi kemuliaan dan cahaya yang baru.

Meniti Jembatan Istighfar

Di lembah taubat, ada jembatan istighfar yang membentang. Ia adalah penghubung antara keterpurukan dan kemuliaan. Dalam setiap istighfar, ada kebersihan hati yang diraih.

Rasulullah, manusia yang paling suci, pun beristighfar lebih dari 70 kali sehari. Bagaimana dengan kita, yang kerap alpa dan khilaf? Seorang penyair sufi, Al-Mutanabbi, pernah menulis:

"Wahai malam yang panjang, tidakkah kau berlalu?
Sungguh jiwa ini tak kuat menanggung beban dosa.
Kuharap fajar segera datang,
Menyingkap segala kelam yang menyelimuti hati."

Halaman:
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizinĀ redaksi.

Editor: Wandi Ruswannur

Tags

Artikel Terkait

Rekomendasi

Terkini

Korupsi Musuh Pancasila

Senin, 1 Juni 2026 | 17:49 WIB

Lima Sila sebagai Lima Luka

Senin, 1 Juni 2026 | 08:25 WIB

Refleksi Tentang Kesetaraan Gender

Sabtu, 30 Mei 2026 | 08:53 WIB

Qurban dan Kepedulian Sosial

Selasa, 26 Mei 2026 | 21:04 WIB

Dua Wajah Indonesia

Selasa, 26 Mei 2026 | 04:34 WIB

Mengapa Indonesia Sulit Maju?

Minggu, 24 Mei 2026 | 08:07 WIB

Rekacipta Indonesia

Sabtu, 23 Mei 2026 | 08:16 WIB

Perangai Islam Ilmiah

Sabtu, 23 Mei 2026 | 08:13 WIB

Sistem AHWA dalam Pemilihan Ketua Umum PBNU

Jumat, 22 Mei 2026 | 05:29 WIB
X