Peran Nahdlatul Ulama dalam Kemerdekaan Indonesia

photo author
Wandi Ruswannur, Journal Nusantara
- Selasa, 8 Oktober 2024 | 14:00 WIB

Oleh: Hasnah Nurhalimah

Nahdlatul Ulama (NU) merupakan organisasi keagamaan Islam terbesar di Indonesia yang berdiri pada 31 Januari 1926 di Surabaya. Organisasi ini memiliki tujuan untuk mempertahankan dan mengembangkan ajaran Islam Ahlussunnah wal Jama'ah (Sunni) serta melindungi umat Islam dari berbagai ancaman, baik dari penjajah kolonial maupun dari berbagai ideologi yang dianggap menyimpang dari ajaran Islam. Dalam perjalanan sejarah Indonesia, NU memiliki peran besar dalam memperjuangkan kemerdekaan bangsa dari penjajahan, khususnya penjajahan Belanda dan Jepang.

1. Latar Belakang Pembentukan Nahdlatul Ulama

Sejarah berdirinya Nahdlatul Ulama tak terlepas dari dinamika sosial dan politik pada awal abad ke-20. Pada masa itu, kolonial Belanda menerapkan berbagai kebijakan yang menekan kehidupan keagamaan dan sosial masyarakat Indonesia. Ulama-ulama Nusantara yang khawatir dengan perkembangan situasi tersebut memutuskan untuk membentuk suatu wadah guna mempertahankan identitas dan eksistensi umat Islam. NU lahir sebagai respon terhadap kolonialisme dan imperialisme yang mencoba memecah belah persatuan rakyat melalui politik adu domba.

NU juga muncul sebagai bentuk antitesis terhadap gerakan pembaruan Islam yang dianggap terlalu liberal oleh sebagian besar ulama tradisional. Organisasi ini menekankan pentingnya mempertahankan tradisi keagamaan yang telah ada sambil menyesuaikan diri dengan tantangan zaman tanpa harus mengorbankan prinsip-prinsip Islam.

2. Peran NU dalam Masa Penjajahan

Sejak awal berdirinya, NU menunjukkan sikap tegas terhadap kolonialisme. Walaupun awalnya fokus pada isu-isu keagamaan, namun seiring waktu, NU turut berperan dalam gerakan sosial dan politik menentang penjajahan. Salah satu kontribusi awal NU adalah keterlibatannya dalam Majelis Islam A'la Indonesia (MIAI), sebuah organisasi yang menggabungkan berbagai organisasi Islam untuk bersatu melawan penjajahan Belanda.

Pada masa penjajahan Jepang, NU turut memperkuat jaringan perlawanan melalui jalur diplomasi dan pendidikan. Saat Jepang mendirikan Pusat Tenaga Rakyat (Putera) yang melibatkan tokoh-tokoh nasionalis, NU mendukung perlawanan pasif melalui pendidikan agama dan pesantren. Para santri dilatih bukan hanya untuk memahami ilmu agama, tetapi juga diberikan pemahaman mengenai pentingnya memperjuangkan kemerdekaan.

3. Resolusi Jihad 1945

Salah satu peran paling signifikan NU dalam sejarah kemerdekaan Indonesia adalah ketika KH Hasyim Asy'ari, sebagai pemimpin tertinggi NU, mengeluarkan Resolusi Jihad pada 22 Oktober 1945. Resolusi ini adalah seruan kepada seluruh umat Islam untuk berjihad melawan pasukan sekutu yang ingin merebut kembali kekuasaan di Indonesia setelah Proklamasi Kemerdekaan pada 17 Agustus 1945.

Resolusi ini menegaskan bahwa mempertahankan kemerdekaan adalah kewajiban agama. Rakyat, khususnya umat Islam, diminta untuk melakukan perlawanan fisik jika diperlukan demi mempertahankan kemerdekaan. Seruan ini berhasil menggerakkan ribuan umat Islam, khususnya santri dan kiai, untuk turun ke medan perang. Salah satu dampaknya adalah Pertempuran Surabaya pada 10 November 1945, di mana ribuan pejuang dari berbagai daerah, termasuk kelompok santri NU, berperang melawan pasukan Inggris yang mencoba menguasai kembali kota tersebut.

Resolusi Jihad NU memberikan legitimasi moral dan agama bagi perjuangan rakyat Indonesia. Peran santri dan kiai dalam pertempuran ini membuktikan bahwa NU bukan hanya terlibat dalam urusan keagamaan, tetapi juga siap berkorban demi mempertahankan tanah air.

4. Kontribusi NU dalam Pembentukan Negara Indonesia

Setelah kemerdekaan, NU tetap memainkan peran penting dalam membangun negara yang baru berdiri. Pada masa awal kemerdekaan, tokoh-tokoh NU seperti KH Wahid Hasyim, yang merupakan putra KH Hasyim Asy'ari, terlibat dalam pemerintahan. KH Wahid Hasyim menjabat sebagai Menteri Agama dan berperan penting dalam merumuskan kebijakan terkait kehidupan beragama di Indonesia.

Halaman:

Artikel Selanjutnya

Pentingnya Berorganisasi di PMII

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizinĀ redaksi.

Editor: Wandi Ruswannur

Tags

Artikel Terkait

Rekomendasi

Terkini

Korupsi Musuh Pancasila

Senin, 1 Juni 2026 | 17:49 WIB

Lima Sila sebagai Lima Luka

Senin, 1 Juni 2026 | 08:25 WIB

Refleksi Tentang Kesetaraan Gender

Sabtu, 30 Mei 2026 | 08:53 WIB

Qurban dan Kepedulian Sosial

Selasa, 26 Mei 2026 | 21:04 WIB

Dua Wajah Indonesia

Selasa, 26 Mei 2026 | 04:34 WIB

Mengapa Indonesia Sulit Maju?

Minggu, 24 Mei 2026 | 08:07 WIB

Rekacipta Indonesia

Sabtu, 23 Mei 2026 | 08:16 WIB

Perangai Islam Ilmiah

Sabtu, 23 Mei 2026 | 08:13 WIB

Sistem AHWA dalam Pemilihan Ketua Umum PBNU

Jumat, 22 Mei 2026 | 05:29 WIB
X