Cara Menyikapi Dzurriyyah Rasulullah yang Tidak Sesuai dengan Syariat

photo author
Wandi Ruswannur, Journal Nusantara
- Minggu, 1 September 2024 | 08:00 WIB
Ilustrasi suana Kabah di tanah suci (Yasir Gürbüz/pexels.com)
Ilustrasi suana Kabah di tanah suci (Yasir Gürbüz/pexels.com)

Dikarenakan Dzurriyyah Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bermacam-macam dan berbeda beda, ada yang alim ada yang tidak, ada yang sesuai dengan syariat, ada pula yang tidak, maka kita harus tahu bagaimana cara menyikapinya.

Jangan semua di gebyah uyah, dihukumi dianggap dan diperlakukan sama rata antara satu dengan yang lain.

Apalagi dengan menghukumi semua Dzurriyyah sama buruknya (Na'udzu Billah) ketika suatu ketika ada salah satu oknum/ individu yang tidak sesuai dengan syariat, karena ini adalah suatu kesalahan dan kebodohan yang nyata yang tidak sesuai dengan Firman Alloh

{... وَلَا یَجۡرِمَنَّكُمۡ شَنَـَٔانُ قَوۡمٍ عَلَىٰۤ أَلَّا تَعۡدِلُوا۟ۚ ٱعۡدِلُوا۟ هُوَ أَقۡرَبُ لِلتَّقۡوَىٰۖ وَٱتَّقُوا۟ ٱللَّهَۚ إِنَّ ٱللَّهَ خَبِیرُۢ بِمَا تَعۡمَلُونَ }

... Dan janganlah kebencianmu terhadap suatu kaum mendorong kamu untuk berlaku tidak adil. Berlaku adillah. Karena (adil) itu lebih dekat kepada takwa. Dan bertakwalah kepada Allah, sungguh, Allah Maha teliti terhadap apa yang kamu kerjakan.
[Surat Al-Ma'idah: 8]

Hanya dikarenakan kebencian dengan beberapa oknum/individu yang tidak sesuai dengan syariat, lalu kita menganggap semua sama, berarti kita telah berbuat tidak adil, karena definisi adil adalah

وضع الشيئ فى محله

Menempatkan sesuatu pada tempatnya.

Jadi, seandainya ada oknum yang benci, maka yang lain yang baik, yang tidak bersalah, janganlah ikut dibenci, inilah sifat adil. (Meskipun membenci orang lain apalagi sesama muslim itu tidak baik, karena ayat ini bukan berarti melegalkan kebencian pada sesama, tapi hanya menunjukkan sifat umum pada diri manusia)

Lalu bagaimana cara kita menyikapinya...?

Diantara maqalah guru kami, KH. Maimun Zubair Rohimahullah, kurang lebihnya:

" Ketika kalian melihat Dzurriyyah Rasulullah shallallahu alaihi wasallam yang tidak sesuai dengan syariat, maka ibaratkanlah jika kalian melihat Mushaf Alqur'an yang sudah rusak dan tidak bisa dibaca", (jangan lalu dibuang dan dihinakan, karena itu adalah suatu dosa yang besar, dan jangan pula dibaca karena tentu akan banyak kesalahan ketika dibaca)

Jadi...

Ketika ada Dzurriyyah yang tidak sesuai dengan syariat, maka janganlah didikuti prilakunya, karena tidak ada perintah dari syariat untuk mengikuti orang salah meskipun Dzurriyyah.
Tapi jangan pula kita menghinakan dan menistakannya, karena itu adalah suatu dosa yang sangat besar.

Halaman:

Artikel Selanjutnya

Perihal Porsi Makan

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Editor: Wandi Ruswannur

Tags

Artikel Terkait

Rekomendasi

Terkini

Korupsi Musuh Pancasila

Senin, 1 Juni 2026 | 17:49 WIB

Lima Sila sebagai Lima Luka

Senin, 1 Juni 2026 | 08:25 WIB

Refleksi Tentang Kesetaraan Gender

Sabtu, 30 Mei 2026 | 08:53 WIB

Qurban dan Kepedulian Sosial

Selasa, 26 Mei 2026 | 21:04 WIB

Dua Wajah Indonesia

Selasa, 26 Mei 2026 | 04:34 WIB

Mengapa Indonesia Sulit Maju?

Minggu, 24 Mei 2026 | 08:07 WIB

Rekacipta Indonesia

Sabtu, 23 Mei 2026 | 08:16 WIB

Perangai Islam Ilmiah

Sabtu, 23 Mei 2026 | 08:13 WIB

Sistem AHWA dalam Pemilihan Ketua Umum PBNU

Jumat, 22 Mei 2026 | 05:29 WIB
X