Merasa lebih Baik dan Salah Merasa, Ternyata...

photo author
Abdul Qodir Majid, Journal Nusantara
- Selasa, 26 September 2023 | 14:37 WIB
Ilustrasi menjadi benar atau merasa benar. (Pixabay.com)
Ilustrasi menjadi benar atau merasa benar. (Pixabay.com)

Oleh : Oemar Mita

Di antara hal fatal yang bisa berubah menjadi musibah agama ialah salah merasa dan merasa lebih baik padahal hakekatnya berbanding sebaliknya.

Layaknya Iblis yang merasa lebih baik dari Adam dengan berdalih bahwa ia dicipta dari api dan Adam hanyalah tanah dan ia pun tertipu dengan rasa lebih baik hingga terjerumuskan dengan kesombongan diri hingga ia ditetapkan makhluk yang terlaknat

Baca Juga: Jadilah Istri Yang Qana'ah

(قَالَ مَا مَنَعَكَ أَلَّا تَسْجُدَ إِذْ أَمَرْتُكَ ۖ قَالَ أَنَا خَيْرٌ مِنْهُ خَلَقْتَنِي مِنْ نَارٍ وَخَلَقْتَهُ مِنْ طِينٍ)

Apakah yang menghalangimu untuk bersujud (kepada Adam) di waktu Aku menyuruhmu?” Menjawab iblis “Saya lebih baik daripadanya: Engkau ciptakan saya dari api sedang dia Engkau ciptakan dari tanah”. (Surat Al-A'raf 12)

Padahal apa yang dipikirkan Iblis justru sebaliknya, bahwa tanah adalah lebih baik dari api karena hakekat tanah menumbuhkan dan mengadakan dari sesuatu yang tiada dan api sifatnya ialah menghanguskan dan meniadakan (Lihat kitab Al-Masaail Al_Jahiliyyah Syaikh Sholih al Fauzan)

Dan Iblis-pun terlena dengan itu hingga Jahannam menjadi tempat kembalinya karena olah rasa yang salah berakibat fatal ketika ia selalu merasa lebih baik dan justru ia dendam dengan Adam atas kesalahan yang ia perbuat sendiri.

Baca Juga: Jadwal Audiensi Mundur, Cianjur Global Institute Sesalkan Pelayanan Sekwan DPRD Yang Terkesan Lambat

Merasa lebih baik ternyata hari ini muncul dengan berbagai variannya yang beragam, ketika Iblis tak tak mengenal cuti untuk mewariskan dosa yang pernah menggelincirkanya, maka ia pun meniupkan kepada hati yang lalai untuk selalu merasa lebih baik dari siapapun di antara manusia.

Hingga akhirnya begitu gampang menghujat, merendahkan, mencaci maki siapapun yang dianggap tidak sama dengan mereka ketika dianggap bodoh, salah, bathil, dan sederet vonis lainya persis layaknya Iblis yang menganggap Adam lebih buruk dari dirinya.

Kalaupun kita dulu sebelum mengenal taman majelis ilmu kita digoda oleh Iblis dengan menyerupai kehidupan orang kafir, hura-hura tanpa henti, pesta, minuman keras, dan sederet lainya.

Baca Juga: Merenungi Antara Anugerah Dengan Musibah

Dan ketika hati jiwa kita tersapa dengan hidayah ilmu lalu kita meninggalkan dosa semua yang dulu kita kerjakan lalu berubah menjadi penghujat, menodai kehormatan hamba beriman, mencaci maki yang tidak sepaham, kasar kepada hamba beriman, maka berarti kita hanya pindah dosa dari yang kecil ke dosa yang jauh lebih besar dan itu terjadi ketika merasa lebih baik.

Halaman:
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Editor: Abdul Qodir Majid

Tags

Artikel Terkait

Rekomendasi

Terkini

Kedaulatan Pangan Dimulai dari Desa

Sabtu, 18 Juli 2026 | 19:49 WIB

Mendadak Tua

Sabtu, 18 Juli 2026 | 04:47 WIB

Pagi, Aku Tak Berarti?

Sabtu, 11 Juli 2026 | 05:45 WIB

Jalan Tangguh Iran

Sabtu, 4 Juli 2026 | 12:43 WIB

Saat Regenerasi Menemukan Namanya: Isfhan

Sabtu, 4 Juli 2026 | 12:32 WIB

Menyiapkan Sekoci bagi Penumpang Kapal Retak

Kamis, 2 Juli 2026 | 14:04 WIB

Wahai Mentari Pagi!

Rabu, 1 Juli 2026 | 07:46 WIB

Mencegah Korupsi di Tatar Santri

Selasa, 30 Juni 2026 | 19:34 WIB
X