Ketua Umum PBNU Yahya Cholil Staquf mengamini itu. Saat ini, lanjut dia, belum banyak gagasan besar yang disampaikan calon pemimpin. Yang dominan hanya kasak-kusuk kepentingan politik.
’’Kita butuh mendengar lebih banyak tentang visi dan agenda bangsa,’’ ucap Gus Yahya, sapaannya.
Dia menambahkan, politik bermoral dan adu gagasan sangat dibutuhkan. Supaya tidak ada ruang bagi politik identitas yang memecah belah. Dia menegaskan, NU dan Muhammadiyah siap memberi keteladanan dan komitmen untuk mengingatkan para elite politik.
Demi menghindari politik identitas, Gus Yahya bahkan melarang entitas politik mana pun untuk membawa-bawa nama NU dalam kampanyenya. Dia tidak ingin NU diasosiasikan dengan kelompok politik tertentu.
Baca Juga: Kloter Pertama Jamaah Haji Asal Bandung Mulai DIberangkatkan
Bagi kader NU yang maju dalam kontestasi, Gus Yahya mengimbau agar menonjolkan gagasan dan prestasinya sendiri. Tanpa perlu memanfaatkan identitas NU.
’’Jangan mengandalkan asal NU-nya saja,’’ tuturnya.
Dalam pertemuan kemarin, dua ormas itu sepakat untuk memperkuat silaturahmi dan menjajaki kerja sama di berbagai bidang. Gus Yahya mengakui, ada banyak hal yang bisa dikerjakan bersama terkait dengan kepentingan umat.
Bagi NU, ada sejumlah keunggulan Muhammadiyah yang bisa dipelajari dan dibutuhkan jajarannya.
’’Seperti pengelolaan lembaga layanan, penataan organisasi, dan sebagainya,’’ ungkapnya.
Baca Juga: Kasus KDRT Tahun 2022 Konon Capai 457.895, Ketua MPR RI Himbau Ketegasan Penegak Hukum
Di sisi lain, kesepakatan sikap PBNU dan PP Muhammadiyah soal Pemilu 2024 mendapat respons positif dari Wakil Presiden Ma’ruf Amin. Dia mengatakan, Pemilu 2024 bukan hanya urusan parpol semata.
’’Juga ada kelompok strategis masyarakat, terutama ormas-ormas,’’ katanya.
Ma’ruf menuturkan, kesepahaman bahwa Pemilu 2024 harus steril dari polarisasi seharusnya juga menjadi sikap ormas lainnya.
Dia berharap ormas-ormas keagamaan lainnya juga menggelar pertemuan lintas ormas.