nasional

Diduga Jadi Sasaran Intimidasi, Mantan Ketua BEM UGM Temukan Alat Pelacak di Kolong Mobilnya

Minggu, 14 Juni 2026 | 18:48 WIB
Menyoroti kronologi mantan Ketua BEM UGM, Tiyo Ardianto diduga kena sasaran teror usai menemukan alat pelacak yang menempel di mobilnya. (Instagram.com/@tiyoardianto_)

JOURNALNUSANTARA.COM, SLEMAN — Jagat maya dihebohkan dengan beredarnya sebuah rekaman video yang menunjukkan penemuan alat pelacak elektronik yang sengaja dipasang pada bagian bawah mobil milik mantan Ketua Badan Eksekutif Mahasiswa Universitas Gadjah Mada (BEM UGM), Tiyo Ardianto.

Peristiwa tersebut mendadak jadi sorotan publik lantaran terjadi tidak lama setelah Tiyo terlibat aktif dalam aksi unjuk rasa bertajuk "Rakyat Memanggil" yang digelar di kawasan Gejayan, Sleman, Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY), pada Sabtu, 13 Juni 2026.

Penemuan peranti pengintai ini pun memicu dugaan adanya tindakan teror serta upaya pengerdilan ruang gerak terhadap sang aktivis.

Melalui unggahan di akun Instagram pribadinya, @tiyoardianto_, pada Minggu, 14 Juni 2026, Tiyo membagikan kronologi awal mula kecurigaannya. Ia mengisahkan bahwa sepulang dari aksi massa di Gejayan, telepon selulernya mendadak berdering dan menampilkan notifikasi peringatan sistem keamanan berupa deteksi dari perangkat pelacak tak dikenal bermerek 'PBX Finder'.

"Mendapati peringatan itu, saya bersama rekan-rekan langsung bergegas memeriksa seluruh bagian kendaraan secara jeli satu per satu. Ternyata dugaan itu benar, kami menemukan alat tersebut tersembunyi di bagian bawah mobil, melekat kuat menggunakan magnet," kata Tiyo saat menjelaskan kronologi penemuan alat tersebut dalam unggahannya.

Aktivis yang selama ini dikenal vokal dalam mengkritisi berbagai kebijakan ekonomi dan konstelasi politik nasional tersebut memandang temuan ini bukan sekadar persoalan teknis biasa. Bagi Tiyo, keberadaan alat pelacak rahasia di kendaraan pribadinya merupakan bentuk intimidasi yang nyata dan terstruktur terhadap gerakan sipil.

Ia menyayangkan adanya respons represif terselubung terhadap aktivitas penyampaian pendapat di muka umum yang dijamin oleh undang-undang.

Tiyo menegaskan bahwa kritik yang dilayangkannya bersama elemen mahasiswa lain semata-mata didasari atas kepedulian terhadap kebijakan-kebijakan yang dirasa menyengsarakan masyarakat luas.

"Kami menyuarakan aspirasi dengan cara-cara yang damai, tetapi justru respons seperti ini yang kami dapatkan. Saya menduga kuat ada maksud tersembunyi di balik pemasangan alat ini, yang muaranya tidak lain adalah untuk mengembuskan rasa takut agar kami memilih bungkam," tutur Tiyo.

Kendati mendapatkan tekanan psikologis berupa pengintaian tersebut, mantan pucuk pimpinan mahasiswa UGM ini menyatakan bahwa insiden semacam ini bukanlah hal baru dalam dinamika perjuangan yang ia jalani.

Tindakan teror tersebut justru dinilai menjadi indikator bahwa substansi kritik yang disuarakan oleh kelompok gerakan telah tepat sasaran dan memicu kekhawatiran pihak-pihak tertentu.

Ia pun memastikan bahwa adanya upaya pembatasan dan ancaman di ruang digital maupun fisik ini tidak akan menyurutkan langkahnya untuk terus bersuara. Tiyo berkomitmen akan tetap berdiri di garis depan dalam mengawal isu-isu keadilan sosial tanpa rasa gentar terhadap segala bentuk intimidasi.

Sebagai langkah hukum dan demi menuntut transparansi, Tiyo berencana membawa temuan fisik alat pengintai bermagnet tersebut kepada aparat penegak hukum dalam waktu dekat.

Ia mendesak otoritas yang berwenang untuk segera mengusut tuntas motif dan aktor intelektual di balik pemasangan alat pelacak ilegal tersebut agar kasus serupa tidak menimpa aktivis kemanusiaan lainnya.

Tags

Terkini

Peringatan Dini Cuaca Ekstrem

Selasa, 5 Mei 2026 | 22:25 WIB