JOURNALNUSANTARA.COM, JAKARTA - Nama Gus Gudfan Arif Ghofur terus menguat dalam bursa calon ketua umum PBNU seiring bermunculannya gelombang dukungan dari kiai sepuh, kader muda, PWNU, PCNU, hingga badan otonom seperti Fatayat, Ansor, IPNU, dan Pagar Nusa.
Berbeda dari figur yang kerap berorasi atau bermanuver politik, ia dikenal berkarakter tenang dan merakyat. Dukungan dari berbagai lini tersebut hadir secara organik di tengah kerinduan warga Nahdliyin akan sosok pemimpin yang fokus merawat serta mengayomi organisasi secara tulus.
Pengabdian Gus Gudfan yang mengakar dari tingkat bawah telah menjadi antitesis di tengah maraknya figur yang mengejar popularitas instan demi kekuasaan.
Rekam jejak kepemimpinannya teruji lewat berbagai amanah strategis non-media, seperti Bendahara PP Pagar Nusa, Bendahara RMI PWNU Jatim, hingga Penasihat GP Ansor.
Salah satu pengurus PBNU memuji integritasnya dengan menyatakan, "Gus Gudfan tidak pernah menolak tugas meskipun itu kecil. Beliau mengurus bendahara Pagar Nusa dengan penuh tanggung jawab. Uang masuk dan keluar jelas. Tidak pernah ada cerita dana menguap. Itu langka."
Pendekatan operasionalnya senantiasa berfokus pada kerja nyata pemberdayaan ekonomi pesantren, peningkatan kesejahteraan guru ngaji, dan pengawalan dana organisasi secara akuntabel tanpa melakukan klaim sepihak atas nama umat.
Koordinator Santri Indonesia, Gangga Listiawan, turut menegaskan dorongan tersebut dengan menyampaikan, "Beliau tidak pernah minta didorong. Justru kami yang merasa harus mendorong. Kami melihat sendiri bagaimana beliau bekerja, bagaimana beliau merendah, bagaimana beliau mengayomi. Dan kami merasa, NU butuh pemimpin seperti itu. Bukan yang sibuk mencari validasi sana-sini."
Gerakan dukungan lintas elemen tanpa struktur tim sukses yang masif ini direfleksikan sebagai dorongan poros tengah untuk mengembalikan NU pada khittah kepemimpinan yang melayani.
Perwakilan pengurus PWNU dan PCNU menegaskan, "Kami tidak sedang mendorong Gus Gudfan untuk menggantikan siapa pun. Kami sedang mendorong kebangkitan kembali nilai-nilai NU yang sempat redup. Gus Gudfan adalah simbol dari kebangkitan itu. Bukan karena nama, bukan karena jabatan, tapi karena sikap dan konsistensinya."
Menjelang Muktamar ke-35, sosok Gus Gudfan menjadi figur yang dinantikan untuk membawa PBNU kembali ke jalur pengabdian para pendirinya.
Artikel Terkait
Ketum APKASI Apresiasi Dasco dan Cucun, Pimpin Dialog soal Pembangunan Daerah Bersama DPR RI
Rekam Jejak Jadi Bukti, Don Muzakir Cocok Jadi Wamentan
Mutiara Pagi: Guru yang Adil (Bagian 2281)
Cahaya Al-Muhajirin Pepabri Gunteng: Menabur Benih Kebaikan di Setiap Langkah (Bagian 47)
Silaturahmi MD KAHMI se-Jawa Barat: Merajut Ukhuwah, Membangun Sinergi
Jarang Disorot, 7 Penyanyi asal Sumedang Ini Berhasil Mengharumkan Nama Daerahnya
Olah Air Minum Alami, Bupati Cianjur Dorong Kemandirian Sumber Daya Daerah
Dandi Kusnadi Duta Anti Narkoba Jawa Barat Gaungkan Edukasi P4GN Bersama Relawan Mahasiswa Cianjur
HUT Cianjur, Ratusan Anak Yatim Terima Santunan Sosial BUMD
Kecamatan Pagelaran Siap Gelar MTQH XLVIII Kabupaten Cianjur 2026