nasional

Rais Aam PBNU Kirim Surat Tabayun ke Gus Yahya Terkait Dugaan Pencatutan Nama

Selasa, 27 Januari 2026 | 14:18 WIB
Rais Aam PBNU kirim surat tabayun ke Gus Yahya terkait dugaan pencatutan nama

JOURNALNUSANTARA.COM, SURABAYA – Rais Aam Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) KH Miftachul Akhyar secara resmi melayangkan surat klarifikasi atau tabayun kepada Ketua Umum PBNU KH Yahya Cholil Staquf (Gus Yahya).

Langkah ini diambil menyusul beredarnya undangan Peringatan Hari Lahir (Harlah) ke-100 Tahun Masehi NU yang diduga mencatut nama Rais Aam tanpa melalui prosedur organisasi yang semestinya.

Dalam pernyataan resmi yang dirilis di Surabaya, Selasa (27/1/2026), pihak Rais Aam mengungkapkan bahwa sejak Senin (26/1/2026), muncul gelombang pertanyaan dari berbagai pihak mengenai validitas undangan peringatan Harlah yang direncanakan berlangsung di Istora Senayan, Jakarta.

Persoalan Mekanisme Organisasi

Inti dari keberatan yang disampaikan dalam surat tersebut berkaitan dengan ketaatan pada mekanisme organisasi. KH Miftachul Akhyar menegaskan bahwa hingga saat ini belum dilaksanakan Rapat Pleno untuk memutuskan agenda besar tersebut, sebagaimana yang telah disepakati dalam pertemuan di Pondok Pesantren Miftachussunnah, Surabaya, Desember 2025 lalu.

"Disampaikan dengan hormat bahwa telah diterima banyak pertanyaan terkait kebenaran undangan Peringatan Harlah ke-100 Masehi. Dimohon agar pihak terkait memberikan klarifikasi atas kebenaran undangan tersebut," bunyi petikan surat pernyataan tersebut.

Pihak Syuriyah sebelumnya telah mengusulkan agar pelaksanaan agenda strategis organisasi harus diputuskan melalui Rapat Pleno untuk menjamin keabsahan dan kebersamaan di internal PBNU.

Sorotan pada Tanda Tangan Undangan

Selain masalah rapat, surat tersebut juga menyoroti draf undangan untuk Presiden RI. KH Miftachul Akhyar mengingatkan bahwa sesuai kelaziman dan aturan organisasi, undangan resmi seharusnya ditandatangani oleh empat pimpinan (Rais Aam, Katib Aam, Ketua Umum, dan Sekretaris Jenderal).

Penggunaan format empat tanda tangan dinilai penting untuk menunjukkan kepada publik dan kepala negara bahwa kondisi internal PBNU telah kembali solid dan berjalan normal sesuai aturan main yang berlaku.

Imbauan Penundaan Acara

Mengingat adanya prosedur yang belum terpenuhi, Rais Aam mengharapkan agar rencana Harlah ke-100 NU di Istora Senayan pada 31 Januari 2026 dapat dipertimbangkan kembali atau ditunda.

"Penyelenggaraan peringatan harlah tersebut masih dapat dilaksanakan pada kesempatan lain. Hal yang terpenting saat ini adalah agar Jam’iyah dapat berjalan dengan baik, tertib, serta sesuai dengan kaidah berorganisasi," tegas pernyataan tersebut.

Hingga berita ini diturunkan, pihak Tanfidziyah PBNU belum memberikan respons resmi terkait surat tabayun dari Rais Aam tersebut. Langkah klarifikasi ini diharapkan dapat meredam kegaduhan dan mengembalikan semangat kolektif-kolegial di tubuh organisasi Islam terbesar di Indonesia ini.

Tags

Terkini