Surat itu dibawa Nakajima ke Arab Saudi, dan langsung membuka pintu istana. Raja Faisal menyambut dengan hangat dan memenuhi permintaan tersebut.
Jepang pun kembali mendapatkan pasokan minyak yang mereka butuhkan untuk menyelamatkan industri mereka berkat secarik surat dari seorang tahanan politik bernama Mohammad Natsir.
Pertamina, Jepang, dan Jejak Tak Terlihat
Minyak yang dikirim Arab Saudi disalurkan melalui Pertamina, yang kemudian menjadi pemain besar di Jepang. Bahkan, menurut Hamada, Pertamina sempat menjadi pembayar pajak terbesar di Jepang.
Industri otomotif Jepang seperti Toyota, Honda, dan Mitsubishi berkembang pesat pasca-embargo, berkat pasokan energi dari kerja diplomasi diam-diam Natsir.
Namun Natsir sendiri tak pernah mengungkapkan jasa tersebut. Lebih mengejutkan lagi, ia menolak semua bentuk hadiah dari pemerintah Jepang. Kepada keluarganya, ia berpesan untuk tidak menerima imbalan apapun. Semua bentuk penghargaan dan pemberian dikembalikan.
Sikap itulah yang membuat bangsa Jepang sangat menghormatinya. Dalam pandangan mereka, ia adalah tokoh langka jujur, berintegritas, dan penuh pengabdian, bahkan tanpa ingin dikenal.
Mosi Integral dan Gagasan Negara Kesatuan
Selain perannya dalam diplomasi global, Natsir juga dikenal sebagai arsitek kembalinya Indonesia menjadi negara kesatuan. Pada 3 April 1950, ia mengusulkan Mosi Integral di Parlemen Republik Indonesia Serikat (RIS), yang menjadi pintu masuk bagi berdirinya kembali Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI).
Berkat kepiawaiannya berdiplomasi dan membangun konsensus, seluruh negara bagian akhirnya bergabung ke dalam NKRI. Namun tak banyak yang tahu, bahwa sebelum banyak orang meneriakkan “Saya NKRI” atau “Saya Pancasila”, Mohammad Natsir sudah lebih dahulu meletakkan dasar bagi keutuhan bangsa.
Penutup: Sosok yang Tak Tergantikan
Mohammad Natsir adalah politisi, ulama, negarawan, dan pejuang kemerdekaan yang telah menorehkan pengaruh besar di dalam dan luar negeri. Ia pernah menjabat sebagai Presiden Liga Muslim Dunia, Ketua Dewan Masjid se-Dunia, serta memegang tiga gelar doktor kehormatan.
Namun di tanah airnya sendiri, kisah seperti lobi diplomatik dengan Arab Saudi yang menyelamatkan Jepang, atau sikap penolakannya terhadap hadiah dari negeri itu, tak tercantum dalam buku pelajaran sejarah.
Kini, saat bangsa ini terus mencari sosok pemimpin panutan, mungkin sudah saatnya generasi baru belajar lebih dalam tentang figur seperti Mohammad Natsir seorang negarawan sejati yang disegani dunia, tapi memilih hidup dalam kesederhanaan dan keikhlasan.