nasional

Idul Fitri 1446 Hijriyah dan Kelesuan Ekonomi Indonesia

Selasa, 1 April 2025 | 14:26 WIB
Ilustrasi idul Fitri 2025. (unsplash.com/@mufidpwt)

Meskipun demikian, pemerintah memproyeksikan bahwa pertumbuhan ekonomi Indonesia pada tahun 2025 akan tetap positif. Bank Indonesia (BI) memproyeksikan pertumbuhan ekonomi Indonesia pada kisaran 4,7-5,5%, sementara pemerintah menargetkan 5,2%, didorong oleh konsumsi domestik dan kebijakan fiskal.

Namun, menurut Center for Economic and Law Studies (Celios), proyeksi pertumbuhan ekonomi untuk kuartal I-2025 hanya sebesar 5,03%, lebih rendah dibandingkan dengan kuartal I-2024 yang mencapai 5,11%.

Celios juga memprediksi bahwa dampak PDB dari momentum Lebaran tahun ini akan menurun signifikan, yakni hanya mencapai Rp140,74 triliun, turun 16,5% dibandingkan dengan tahun sebelumnya yang mencapai Rp168,55 triliun.

Keuntungan pengusaha selama periode libur Lebaran 2025 diperkirakan hanya akan mencapai Rp84,19 triliun, lebih rendah dibandingkan dengan tambahan pendapatan tahun lalu yang mencapai Rp100,83 triliun. Penurunan ini berkorelasi dengan melemahnya daya beli masyarakat, yang sudah terlihat sejak awal tahun 2025.

Salah satu indikator pelemahan daya beli ini adalah menurunnya porsi simpanan perorangan, yang kini hanya mencapai 46,4% dari total Dana Pihak Ketiga (DPK). Hal ini belum pernah terjadi pada pemerintahan sebelumnya.

Pada awal periode pemerintahan Joko Widodo (Jokowi) – Jusuf Kalla (JK), porsi simpanan perorangan mencapai 58,5%, sementara pada periode Jokowi – Ma’ruf Amin sebesar 57,4%.

Celios berpendapat bahwa menurunnya porsi tabungan perorangan menunjukkan bahwa masyarakat cenderung bertahan hidup dengan menguras simpanan mereka.

Hal ini disebabkan oleh upah riil yang terlalu kecil, berkurangnya tunjangan, serta ancaman pemutusan hubungan kerja (PHK) yang masih berlanjut.

Dengan berbagai indikator ekonomi tersebut, Celios memperkirakan pertumbuhan ekonomi triwulan I-2025 hanya akan mencapai 5,03% (year-on-year/YoY), lebih rendah dibandingkan pertumbuhan triwulan I tahun 2024 yang mencapai 5,11%.

Meski demikian, Bhima Yudhistira dari Celios menilai bahwa faktor musiman, seperti pembagian tunjangan hari raya (THR), tetap tidak cukup untuk meningkatkan pertumbuhan ekonomi secara signifikan.

Bahkan, ada kekhawatiran bahwa ekonomi akan melambat pasca-Lebaran, karena tidak ada lagi motor penggerak konsumsi yang signifikan.

Di sisi lain, efisiensi besar-besaran dalam belanja pemerintah juga mempengaruhi tingkat kepercayaan konsumen. Pelemahan nilai tukar rupiah semakin menambah kehati-hatian masyarakat dalam membelanjakan uangnya.

Akhirnya, terlepas dari analisa apapun itu, semoga target pemerintah dapat tercapai dan masyarakat Indonesia dapat merasakan kesejahteraan sesuai dengan janji Presiden dan Wakil Presiden, Prabowo Subianto dan Gibran Rakabuming Raka, untuk menghilangkan kemiskinan di Indonesia. Semoga.

Dikutip dari berbagai sumber

Halaman:

Tags

Terkini

Peringatan Dini Cuaca Ekstrem

Selasa, 5 Mei 2026 | 22:25 WIB

Polri dan TNI Bersinergi Sikat Mafia Migas

Selasa, 7 April 2026 | 17:45 WIB

Menghindari Kemacetan Puncak

Sabtu, 4 April 2026 | 10:40 WIB