Airin adalah ironi, anomali dalam kehidupan sosial ketimuran yang katanya bermoral dan beretika.
Airin Rachmi Diany (ARD), meski tubuhnya kecil mungil, namun dia adalah wanita hebat, kuat dan isnpiratif. Dua kali dia disakiti dan "dikhianati" oleh laki-laki yang sangat dia percaya.
Pertama adalah suaminya, Tubagus Chaeri Wardana alias Wawan. Kedua adalah seorang pria hebat yang pernah dia bantu dengan keringat dan air mata untuk mewujudkan cita-citanya.
Sebagai Ketua Tim Kampanye Daerah(TKD) Provinsi Banten, Airin telah berhasil mengantarkan Prabowo Subianto dan Gibran Rakabuming Raka sebagai Presiden dan Wakil Presiden Republik Indonesia pada Pilpres 2024.
Keberhasilannya memenangkan Prabowo-Gibran di Banten, ternyata tidak menjadikannya diusung sebagai Calon Gubernur (Cagub) pada Pilkada Banten 2024. Koalisi Indonesia Maju (KIM) Plus pimpinan Prabowo justru mengusung orang lain yaitu Andra Soni, kader Gerindra dan Achmad Dimyati Natakusumah, kader PKS, (sebelumnya PPP).
Bahkan Partai Golkar, yang dia besarkan juga tidak meliriknya. Di tengah rasa kecewa dan sakit hatinya, Megawati Sukarnoputri sebagai Ketua Umum PDI Perjuangan, memberi Airin kepercayaan untuk maju sebagai Cagub Banten bersama Ade Sumardi.
Airin menangis, entah sedih atau bahagia. Secara tiba-tiba DPP Partai Golkar membatalkan dukungannya kepada pasangan Andra-Dimyati dan memberikan rekomendasi kepada Airin. Drama..
Bermodal rekam jejak sebagai Walikota Tangerang Selatan dua periode (2011-2021), dan elektabilitas diatas 70%, Airin mantap bertarung pada Pilkada Banten 2024.
Namun apa daya, karena tidak didukung oleh KIM Plus dan Prabowo sebagai Presiden, Airin akhirnya harus menerima kenyataan, kalah dari Andra Soni, 42 % lawan 57 % dari Andra Soni, berdasar hitung cepat Charta Politika.
Berbagai rumor beredar, mulai dari penjegalan Airin, pengepungan timses, pengerahan unsur "kekuasaan" hingga guyuran logistik besar-besaran oleh pihak lawan.
Bahkan beberapa kalangan menduga, mesin politik Partai Golkar tidak sungguh-sungguh memenangkan Airin, jika tidak mau dikatakan "nggembosi".
Politik memang kejam, sadis dan kasar, seperti kata Babah Alun, yang juga politisi Partai Golkar, sebelum mengundurkan diri.
Nasib Airin berbanding terbalik dengan Khofiaf Indar Parawansa, Ketua TKD Prabowo-Gibran Provinsi Jawa Timur. Khofifah diusung dan didukung KIM Plus untuk memenangkan Pilkada Jatim2024.
Adakah calon kepala daerah lain yang mengalami nasib seperti Airin ?