Oleh: Agung Wibawanto
Rabu, 27 Nopember kemarin Indonesia menyelenggarakan pilkada serentak. Pilkada serentak 2024 dilaksanakan di 545 daerah meliputi 37 provinsi, 415 kabupaten, dan 93 kota. Namun masyarakat lebih banyak menyoroti pilkada di pulau Jawa, terutama Jateng dan DKI Jakarta. Di luar Jawa, pilkada Sumut dan Bali juga paling ramai dibincangkan warga net di time line media sosial.
Di daerah yang disebutkan di atas tadi berkaitan perseteruan antara presiden ke 7, Jokowi, dengan PDI Perjuangan (PDIP). Topik perseteruan ini masih saja menduduki posisi atas sebagai hot issue sejak pilpres kemarin. Sebagian warga masih meyakini ada unsur ketidaksenangan Jokowi kepada PDIP menyebabkan dirinya harus ikut cawe-cawe turun gunung mendukung kandidat Pilkada di banyak daerah.
Mengikuti istilahnya Maruar Sirait yang menyebut Jokowi sebagai macan tidur yang dibangunkan (dalam konteks pilkada Jakarta). Macan Solo ini tidak hanya mengkampanyekan langsung paslon pada pilkada Jateng ataupun paslon pilkada Solo, di mana Jokowi berdomisili. Melainkan hampir kepada semua paslon pilkada di wilayah lainnya. Ada apa? Apakah berkaitan dengan kepentingan pribadi Jokowi? Lalu mengapa?
Ada selentingan yang mengatakan bahwa Macan Solo turun gunung mendukung kandidat yang pokoknya tidak berasal dari PDIP. Silahkan cek jika saya salah. Tidak ada kandidat Pilkada yang didukung Jokowi merupakan juga dukungan PDIP. Tanpa ragu sedikitpun Jokowi membikin video menunjukkan ia "titip" daerah dari masing-masing kandidat (sepertinya untuk daerah kab/kota di Jateng).
Jateng memang spesial. Mengapa? Karena wilayah yang merupakan basis PDIP. Lantas mengapa? Ya bagi Jokowi, artinya harus ditaklukan. Sebegitu tidak sukanya Jokowi kepada PDIP yang telah membesarkannya sejak pilkada Solo 2004? Lalu bagaimana hasilnya? Dibantu presiden Prabowo yang juga turun langsung memberi dukungan kepada Luthfi (calon Gubernur Jateng), Jateng nyata dikuasai oleh Luthfi-Yasin.
Selain faktor Jokowi dan Prabowo yang "cawe-cawe", juga karena didukung seluruh partai yang merupakan koalisi pemerintah (kecuali PDIP). Andika kalah pun diyakini karena hanya didukung satu partai yakni PDIP. Di Jateng, juga di beberapa tempat termasuk DKI Jakarta, PDIP adalah satu-satunya partai yang berani mengusung dan mendukung kadernya sendiri. Dan meski tanpa berkoalisi.
Perbedaan Jateng dengan daerah lain, PDIP tidak sendiri mendukung kadernya. Seperti di Jakarta dan Bali (keduanya dimenangkan kader PDIP), PDIP menerima dukungan dari partai lain. Namun apakah benar PDIP habis ataupun game over di Jateng? Secara hasil suara pemilih, Andika memang kalah, namun jika Andika adalah representasi PDIP, maka suaranya bertambah. Jadi, bagaimana bisa mengatakan PDIP game over? Secara logis Andika jelas kalah karena hanya didukung satu partai.
Suara PDIP dalam pileg DPRD Jateng yang lalu hanya memperoleh 33 kursi atau sekitar 27,5% saja. Bandingkan dengan 9 partai pendukung Luthfi yang memperoleh 120 kursi (72,5%) belum dengan partai yang tidak punya kursi. Dalam hitungan matematis, harusnya Luthfi bisa meraup 72% lebih suara dan Andika hanya sekitar 28%. Namun faktanya tidak. Dalam quick count Luthfi hanya memperoleh 58% suara sedangkan Andika 42%.
Dari hitungan ini, sekali lagi jika Andika itu dianggap representasi PDIP, maka suara PDIP justru naik. Bedakan antara Andika kalah, dengan PDIP game over. Itu hasil maksimal pemilih yang mendasarkan kepada siapa partai pendukungnya. Sisanya adalah pemilih berdasarkan sosok (figur). Suara dari partai pendukung Luthfi lah yang justru tergerus dan berpindah ke Andika. Sayangnya, perpindahan itu belum cukup untuk memenangkan Andika.
Jadi, kesimpulan PDIP game over di Jateng adalah keliru, kecuali suara PDIP pada pileg kemarin luar biasa menguasai. Hasil Pilkada Jateng masih dianggap wajar bahkan bagus, karena memang Andika hanya didukung satu partai yang hasil pilegnya hanya mendapat 33 kursi DPRD Jateng (27,5%). Berbeda dengan pilkada DKI Jakarta. Pramono Anung-Rano Karno (keduanya merupakan kader PDIP) tidak hanya didukung PDIP.
Di Jakarta PDIP bersama Hanura. Tambahan suara Pram juga berasal dari simpatisan Anies Baswedan juga Ahok. Sedangkan dukungan Prabowo dan Jokowi plus koalisi KM untuk Ridwan Kamil sepertinya tidak berefek. Ada penjelasan dari sebagian masyarakat mengatakan Ridwan Kamil memang sengaja "dikorbankan". Dikorbankan demi apa? Belum ada penjelasan yang logis. Yang kalah akan menjelaskan.
Pilkada tidak semata soal mesin partai dan pendukung, tapi juga terkait figur. Ridwan Kamil dan pasangan secara figur tampak bermasalah melakukan beberapa kali blunder mengolah isu. Mari berpindah ke Bali di mana PDIP juga mengusung kadernya sendiri dengan dukungan beberapa partai, berhasil memenangkan hitung cepat Pilkada Bali. I Wayan Koster mengalahkan kandidat yang didukung partai koalisi pemerintah.
Secara nasional, Sekjen PDIP, Hasto Kristiyanto, mengatakan PDIP mengalami peningkatan kemenangan. Jika sebelumnya hanya menang di 6 propinsi, kini mencapai 14 propinsi yakni Aceh, Riau, Jambi, Bengkulu, Kepulauan Bangka Belitung, DKI Jakarta, Bali, Kalimantan Tengah (Kalteng), Kalimantan Barat (Kalbar), Papua, Papua Tengah, Papua Pegunungan, Papua Selatan, dan Papua Barat. Hal ini diungkap Hasto dalam konferensi pers di DPP PDIP, Jakarta, Kamis (28/11/2024).
Jadi, PDIP game over yang dimaksud banyak orang itu sebenarnya hanya menunjukkan atas kalahnya Andika, kandidat yang diusung PDIP seorang diri di pilkada Jateng. Sedangkan jika bicara partai, suara Pilkada Jateng justru meningkat ketimbang suara PDIP dalam pileg 2024 (dari 27% menjadi 42%). PDIP juga tidak game over secara nasional, karena nyatanya banyak dan bahkan meningkat pemenangan pilkada provinsinya.