Apalagi dalam arahan-arahan beliau kepada anggota kabinetnya yang cukup tegas. Kebiasaan seremonial yang menghabiskan dana, konferensi dan seminar, saràsehan, apalagi jalan-jalan keluar negeri untuk studi banding agar dikurangi.
Kita semua tahu bahwa pada umumnya semua itu hanya untuk menghabiskan dana dan menjadi bagian dari pintu “tambahan pemasukan” bagi sebagian.
Terlepas dari semua goncang gancing yang ada saya berharap sekaligus mendoakan semoga pemerintahan Prabowo lebih baik dari sebelumnya. Kita semua sadar dan rasakan betapa sepuluh tahun pemerintahan Jokowi terlalu banyak hal yang (maaf kalau memakai kata ini) “dirusak”.
Hal yang paling terasa adalah terjadinya pengangkangan hukum yang dipergunakan sesuai dengan kepentingan-kepentingan tertentu.
Tapi hal yang paling menyedihkan juga adalah bahwa selama pemerintahan Jokowi terjadi “pengelabuan” tentang pembangunan yang nampak merakyat. Kenyataannya pembangunan itu hanyalah pembagian kaplin-kaplin untuk mereka yang sejalan dan mendukung kepentingan pemerintahan Jokowi.
Rakyat tetap tidak kemana-mana. Mereka bagaikan dipaksa lari di tempat, lelah tapi tidak berubah. Kemiskinan dan keterbelakangan tetap menjadi wajah umum masyarakat kita.
Semoga pidato Presiden Prabowo yang berapi-api itu dapat direalisasikan dalam kenyataan. Bahwa beliau ingin menghadirkan kemakmuran dan keadilan untuk masyarakat Indonesia.
Bahwa Indonesia akan menjadi negara yang kuat, bukan karena segelintir yang kuat. Tapi kekuatan yang merata untuk semua anak-anak bangsa. Semoga!
New York City, Oktober 2024
Diaspora Indonesia di Kota New York.