Dalam setahun terakhir ini kita sering menemukan banyak tulisan dan aneka konten berseliweran di media sosial perihal polemik nasab Habaib di Indonesia.
Begitu tajam perbedaan antara kelompok pendukung dan penolak kesahihan nasab Baalawi saling serang silih berganti tanpa henti bahkan seringkali dibumbui provokasi dan caci maki.
Padahal ajaran Rasulullah sudah sangat jelas mengajari kita adab berbeda pendapat dalam berdiskusi
Nabi Muhammad shallallahu ’alaihi wasallam pernah mencontohkan bagaimana sikap beliau dalam menghadapi perbedaan pendapat. Sahabat Ibnu Umar menceritakan bahwa sehabis perang Ahzab, Rasulullah memerintahkan sahabat-sahabat untuk menyerang Yahudi Bani Quraizhah yang melanggar perjanjian damai.
Sebelum berangkat, Nabi berpesan, ”Tidak ada yang boleh shalat Ashar kecuali di tempat Bani Quraizhah.”
Dalam perjalanan, waktu shalat Ashar masuk. Sahabat-sahabat berbeda pendapat, antara shalat di jalan atau shalat di tempat tujuan. Akhirnya, masing-masing kelompok shalat dengan ijtihadnya sendiri.
Sekelompok melakukan shalat Ashar di jalan, sementara yang lain melakukan shalat di tempat Bani Quraizhah.
Ketika perang usai, peristiwa tersebut diceritakan kepada Nabi.
Bagaimana sikap Rasulullah shallallahu ’alaihi wasallam? Beliau tidak mencela seorang pun dari sahabat yang berbeda pendapat (HR. Bukhari-Muslim)
Pendapat kedua kelompok sahabat itu tentu ada yang benar dan ada yang salah. Namun, Rasulullah sama sekali tidak mencela mereka, inilah kedewasaan bersikap dalam menghadapi perbedaan pendapat dan ber ijtihad
Kita memahami bahwa Ijtihad adalah upaya manusiawi. Hasilnya pun bersifat nisbi atau relatif. Sifat ma’shum (suci dari dosa dan kesalahan) hanya diberikan Allah kepada para nabi dan rasul.
Karena itu, seorang mujtahid tidak mungkin memaksakan pendapatnya kepada orang lain.
Imam Malik RA menyatakan bahwa semua orang selain nabi dapat diterima atau ditolak pendapatnya, “Setiap kita bisa menolak atau ditolak pendapatnya kecuali Rasulullah SAW penghuni kubur yang mulia di Madinah.
Tidak ada seorang pun yang wajib ditaati dalam setiap perkataannya kecuali para nabi dan rasul, tidak pula wajib bagi manusia untuk mengikutinya.
Kita melihat hari ada pendapat seseorang yang menyelisihi pendapat para ulama se dunia karena bertentangan dengan kaidah Ilmu para ulama dan fuqoha yang telah diyakini ummat selama berabad abad.