JournalNusantara.com - Indonesia dapatlah dikategorikan sebagai negara yang mampu menjaga dan menjalankan program pembangunan dengan pertumbuhan ekonomi dan fiskan yang relatif baik. Hal ini seperti yang disampaikan oleh Menteri Keuangan, Sri Mulyani.
Menteri Keuangan (Menkeu) Sri Mulyani Indrawati menyampaikan rasa syukur atas ketahanan Ekonomi Indonesia untuk menghadapi berbagai guncangan perekonomian global dalam 15 tahun terakhir. Menurut Sri Mulyani, hal tersebut dapat diwujudkan karena Indonesia mampu menjalankan program pembangunan dengan pertumbuhan ekonomi dan kebijakan fiskal yang relatif terjaga.
"15 tahun terakhir Indonesia dan dunia terus dihadapkan pada guncangan namun Indonesia tetap mampu bisa menjalankan program pembangunan dengan pertumbuhan yang relatif terjaga dan kebijakan fiskal yang terus terjaga sustainable," kata Sri Mulyani saat menyampaikan KEM-PPKF 2025 dalam Rapat Paripurna DPR RI ke-17 di Kompleks Parlemen Senayan, Jakarta, Senin (20/5).
Lebih lanjut, Menkeu menyampaikan dalam sepuluh tahun teakhir Indonesia mengalami eskalasi tensi geopolitik yang menyebabkan perang di Ukraina, Palestina, ketegangan di kawasan Asia dan perang dagang yang menimbulkan fragmentasi global dan disrupsi rantai pasok yang luar biasa.
Bahkan, pandemi Covid-19 dan perubahan iklim, kata Bendahara Negara ini, telah menyebabkan ancaman kemanusiaan serta dampak ekonomi dan keuangan yang sangat besar. Meski begitu, dalam menghadapi berbagai guncangan dan tantangan perubahan besar ini, Indonesia mampu merespons dengan baik melalui kerja sama yang kuat antara Pemerintah dan DPR, beserta segenap lapisan masyarakat.
Kerja sama ini, menurutnya, menjadi kekuatan yang luar biasa sehingga Indonesia berhasil mengatasi berbagai guncangan dengan sangat baik. "Dalam kesempatan baik ini, kami menyampaikan terima kasih dan penghargaan setinggi-tingginya kepada Pimpinan dan seluruh Anggota Dewan yang terhormat sebagai partner pemerintah dan sekaligus pilar demokrasi atas kerja sama dan sinergi yang sangat kuat dalam membahas dan mendukung berbagai kebijakan untuk merespons berbagai guncangan dan perubahan yang terjadi sehingga dapat terus menjaga perekonomian nasional dan masyarakat," jelasnya.
Sri Mulyani juga mengatakan, faktor lain yang berdampak signifikan pada perekonomian dan kebijakan ekonomi makro adalah volatilitas harga komoditas. Harga minyak mentah (Brent) pernah naik ke level USD 115 per barel pada Juni 2014, dan turun tajam ke titik terendah USD 28 per barel di Januari 2016.
Bahkan, saat Pandemi Covid-19, April 2020, harga minyak jatuh lagi ke level terendah USD 23 per barel, namun akibat perang di Ukraina, melonjak tinggi ke level USD 120 per barel pada Juni 2022. Kemudian, di tahun 2023, harga minyak turun tajam menjadi USD 65 per barel, lalu naik kembali menjadi USD90/barel di awal tahun 2024 akibat perang di Gaza, Palestina.
Demikian juga harga batu bara yang pernah mencapai puncaknya USD430/ton pada September 2022 dan turun tajam ke level USD127/ton pada November 2023. Harga CPO juga pernah mencapai level terendah USD544/ton pada Juli 2019, namun melambung tinggi hingga USD1.800/ton pada Maret 2022, kemudian turun kembali menjadi USD804/ton pada Oktober 2023.
"Jatuh bangunnya harga komoditas menyebabkan dampak signifikan bagi perekonomian Indonesia. Pada saat harga tinggi, memacu pertumbuhan melalui permintaan eksternal (ekspor) maupun permintaan domestik. Sementara ketika harga jatuh, pertumbuhan ekonomi dan posisi fiskal mengalami tekanan," pungkasnya.
Suber: Jawa Pos/ R. Nurul Fitriana Putri