JournalNusantara.com - Peristiwa pilu menyelubungi dunia pendidikan kita saat ini. Kejadiaan lakalantas di Ciater Subang Jawa Barat menjadi "tamparan" bagi para praktisi pendidikan di Republik ini pastinya.
Kegiatan sekolah yang seharusnya mengasyikan dan menjadikan semua yang terlibat di dalamnya bersukacita dan berbahagia, justeru sebaliknya menjadi petaka. Jika sudah terjadi hal yang demikian, lantas siapa yang harus dipersalahkan dan juga bertanggungjawab atas kejadian lakalantas yang menelan korab jiwa 11 orang tersebut ?
Diketahui, Intan Fauziah dan Dimas Aditya adalah dua di antara sebelas korban meninggal, sempat mengontak keluarga sore sebelum balik ke Depok. Intan berharap malamnya bisa tidur bareng ibu dan ayah, sedangkan Dimas mengungkap rencana untuk bekerja membantu sang umi setelah lulus SMK.
PESAN dari sang anak, Intan Fauziah, masih terngiang benar di benak Abdulrahman. ”Dia minta jangan tidur dulu. Dijemput, minta gelar kasur, mau tidur bertiga (dengan ayah dan ibu, Red), “ ungkapnya.
Sabtu (11/5) sore itu, Intan dan rombongan kawan-kawan satu sekolahan di SMK Lingga Kencana Depok, Jawa Barat, sedang dalam perjalanan balik setelah mengikuti rangkaian kegiatan perpisahan di Bandung. Diperkirakan, rombongan bakal tiba di Depok sekitar pukul 22.00.
Dian Nurfarida, perwakilan sekolah, mengatakan, kegiatan karyawisata sekaligus perpisahan itu merupakan agenda tahunan yang dilakukan sekolah. Ada tiga bus yang digunakan mengangkut para siswa dan guru.
Tapi, malang tak dapat ditolak. Intan dan kawan-kawan satu rombongan yang diangkut bus Putera Fajar bernomor polisi AD 7524 OG mengalami kecelakaan di turunan di kawasan Ciater, Subang, sekitar pukul 18.45.
Prosesi pemakaman korban kecelakaan bus rombongan SMK Lingga Kencana Depok, TPUI Parung Bingung, Depok, Jawa Barat, Minggu (12/5/2024). Berdasarkan data sementara Dinas Kesehatan Kabupaten Subang, korban meninggal duna sebanyak 11 orang yakni 10 siswa SMK Lingga Kencana Depok dan seorang pengendara sepeda motor. (DERY RIDWANSAH/ JAWAPOS.COM)
Intan, anak semata wayang pasangan Abdulrahman-Puji Wastiah, termasuk di antara sebelas korban meninggal. Dara 19 tahun itu memang akhirnya ”pulang” ke kediaman orang tuanya di Kelurahan Rangkapan Jaya Baru, Pancoran Mas, Depok, sebelum kemudian dimakamkan di Tempat Pemakaman Umum Parung Bingung, Depok.
Intan pergi meninggalkan kedua orang tuanya yang remuk redam. Di hadapan kasur bercorak bunga yang biasa digunakan tidur sang buah hati yang kemarin tersimpan di ruang tamu, tak terhitung lagi berapa kali Abdulrahman dan Puji menangis. Meski keluarga dan sahabat tak henti datang untuk membantu menguatkan.
Kabar duka itu, kata Abdulrahman, pertama dia dengar dari kakaknya. Tapi baru sebatas informasi kecelakaan. ”Kayak ditutupin gitu informasi awalnya. Karena mungkin takut saya kenapa-napa,” terang dia kepada Jawa Pos.
Abdulrahman menjelaskan, dirinya, Intan, dan Istri sangatlah dekat. Walau sudah lulus SMK, tidak jarang mereka bertiga tidur bersama. Madarih, paman korban yang tinggal di sebelah rumah, kali terakhir bertemu Intan sehari sebelum berangkat. ”Intan itu anak yang penurut banget. Nggak macem-macem, “ jelas dia.
Kini Madarih dan keluarga berharap Intan dapat meninggal dalam keadaan husnulkhatimah. ”Doakan aja semoga kami semua diberi kesabaran ya, “ kata dia.