Peserta mempelajari cara kerja AI, mulai dari pengolahan data, pelatihan model, penggunaan algoritma machine learning, hingga menghasilkan prediksi.
Selain itu, seminar membahas perkembangan large language model (LLM), agentic AI, serta tren teknologi AI.
Materi tersebut diarahkan agar guru mampu memanfaatkan teknologi dalam pembelajaran sekaligus mengenalkan kemampuan berpikir komputasional kepada siswa.
Aspek etika digital juga menjadi bagian penting dalam seminar. Para guru dibekali pemahaman mengenai penggunaan teknologi secara aman, bijak, dan bertanggung jawab.
Filsafat Pendidikan
Selain teknologi, seminar membahas hakikat pendidikan melalui perspektif filsafat.
Dr. Frits H. Pangemanan mengangkat pemikiran Sokrates, Plato, dan Aristoteles untuk mengajak para guru memahami kembali peran pendidik dalam proses pembelajaran.
Pembahasan tersebut dikaitkan dengan konsep Pembelajaran Mendalam (Deep Learning) dalam kebijakan pendidikan nasional.
Dalam perspektif filsafat pendidikan, guru tidak hanya berperan sebagai penyampai materi, tetapi juga sebagai pembimbing yang membantu siswa mengembangkan kemampuan berpikir kritis, mengenali diri, membangun karakter, dan mengembangkan moralitas.
Para peserta juga diajak melihat tantangan profesi guru di tengah perkembangan teknologi informasi dan media sosial.
“Akses informasi yang semakin luas membuat siswa memiliki sumber belajar yang beragam. Kondisi tersebut menuntut guru untuk terus meningkatkan pengetahuan dan keterampilan agar tetap relevan dalam mendampingi peserta didik,” kata Frits yang juga penulis buku 50 Tahun Imamat Mgr. Petrus Canisius Mandagi, MSC itu dalam keterangan tertulisnya, Minggu (9/8/2026).
Sejalan Piagam Sinodal
Ketua YPPK Keuskupan Agung Merauke menyebut seminar tersebut sejalan dengan Piagam Sinodal Pendidikan Katolik Indonesia hasil Konferensi Sinodal Pendidikan Katolik (KOSDIK II) yang berlangsung pada 24–26 Juni 2026 di Jakarta.
Piagam tersebut mendorong Lembaga Pendidikan Katolik untuk menyikapi perkembangan teknologi dan kecerdasan buatan secara serius.
Pendidikan di era digital, menurut YPPK, tidak cukup hanya berorientasi pada penguasaan teknologi. Guru dan siswa juga perlu memiliki kebijaksanaan, tanggung jawab moral, kemampuan berpikir kritis, serta kesadaran terhadap dampak penggunaan teknologi.
Artikel Terkait
Polres Cianjur Salurkan Air Bersih dan Pengobatan Gratis di Cibeber
AWC Polres Cianjur Salurkan Bantuan Air Bersih di Nanggeleng
Warga Nanggeleng Cibeber Terima Bantuan Air Bersih dari Polres Cianjur
Alumni PMII Deklarasikan Pembentukan PC IKA PMII Kabupaten Sukabumi
BKPRMI Cianjur Mulai Pembinaan TKA TPA di Cijati dan Kadupandak
Fakultas Psikologi UIMA Gelar Talkshow Literasi Masyarakat di Cianjur
Diantar Sosiologi
Muswil VII KAHMI Jabar Memanas dan Dinamis, Tujuh Presidium Terpilih Periode 2026–2031
Penipuan Berkedok Rekrutmen CPNS Senilai Rp20 M: Diduga Libatkan Oknum Militer Aktif di Jatim
Aksi Begal di Tokma Cibitung Bekasi, Korban Dipepet 2 Pelaku usai Gasak Uang Bank Rp30 Juta