Oleh: Vani Zakiyah
Mahasiswa STAI Al-Azhary Cianjur
Di masa ketika suara perempuan nyaris tak terdengar, dan dunia dikendalikan oleh bayang patriarki, ia hadir, bukan dengan senjata, tapi dengan kata-kata yang tajam dan jujur.
Bukan sekadar nama di buku sejarah, tapi nyala api di tengah gelap, yang berani bicara tentang kebebasan, keadilan, dan hak untuk belajar.
Lewat surat-suratnya, ia menulis tentang mimpi,
tentang dunia yang lebih adil, tempat perempuan tak lagi diam,tak lagi sekadar pelengkap.
Kalau bukan karena keberaniannya, mungkin perempuan hari ini masih dibungkam, masih dilarang bertanya, masih dicegah bermimpi.
“Terima kasih” saja tak cukup. Sekarang giliran kita yang melanjutkan langkahnya. Menjaga suara, menuntut hak, dan memastikan mimpi perempuan tak pernah lagi dianggap kecil.
Saya berharap, semangat Kartini tak hanya diperingati setiap tahun, tapi dihidupi setiap hari. Agar setiap perempuan, dari kota hingga pelosok desa, memiliki ruang yang aman untuk bersuara, bebas untuk bermimpi, dan kuat untuk berdiri.
Karena perjuangan belum usai, dan suara perempuan masih perlu didengar — tanpa syarat, tanpa batas.
Selamat Hari Karitini
Habis gelap terbitlah terang.
Artikel Terkait
Kecelakaan Lalin di Maleber Libatkan 7 Kendaraan di Atas Fly Over, Korban Pingsan
Mutiara Pagi: Ulang Tahun yang Indah (Bagian 1815)
Cetak Kader Mudrik, PK KOPRI STAI Al-Azhary Cianjur Gelar SIG
Bagus Fitriana Terpilih sebagai Ketua PODSI Kab. Cianjur Periode 2025-2029, Siap Torehkan Prestasi di PORPROV Jabar
Mutiara Pagi: Timbal Balik (Bagian 1816)
Ketua RW 17 Gading Asri Desa Bojong, Een Suhendi Berkomitmen Lakukan Perubahan ke Arah yang Lebih Baik
Tanpa Waspada Saat Putar Balik, Pemuda Jatuhkan Diri Demi Selamatkan Pengendara Lain yang Lalai
Mutiara Pagi: Jihad dengan Tinta (Bagian 1817)
Pemdes dan Patriot Desa Murnisari Gencarkan Gerakan JUMSIH: Wujudkan Lingkungan Bersih dan Bebas Sampah
Perusahaan Sawit Terbesar di Indonesia: Pemain Utama di Industri Minyak Kelapa Sawit