Suatu hari, dengan penuh keyakinan diri,
seorang pengikut bertanya pada Nabi Musa:
“Siapakah yang lebih berilmu,
jika dibandingkan dengan dirimu?”
Pertanyaan sederhana,
namun berlapis makna.
Dalam satu tarikan jawaban,
Musa tanpa ragu menyatakan:
“Tidak ada.”
Di situlah langit bergetar oleh teguran,
bukan murka yang membinasakan,
melainkan cinta yang mengingatkan
agar luruh sebutir kesombongan
Dengan kasih dan sayang-Nya,
tak dibiarkan hamba pilihan-Nya
tenggelam dalam ilusi kesempurnaan,
dan merasa dirinya dipenuhi kehebatan
Maka datanglah perintah itu:
“Carilah seorang hamba-Ku,
yang Kuberi ilmu dari sisi-Ku,
di pertemuan dua laut,
di mana keduanya tak saling larut.”
Perjalanan pun dimulai,
Musa melangkah pergi,
bukan hanya sekadar nabi,
melainkan pencari rahasia Ilahi
di pertemuan dua air yang sunyi,
bertemu Nabi Khidir yang misteri
Dua laut mengalir tanpa berbenturan,
berdampingan dalam keseimbangan
Musa pun berkata dengan sadar:
“Aku ingin belajar, wahai guru yang sabar,
ajarkanlah ilmu yang tersembunyi,
yang Tuhan titipkan dalam dirimu ini.”
Namun Khidir menjawab tanpa ragu:
“Engkau takkan mampu bersabar bersamaku,
Sebab ilmu yang akan kau saksikan,
tak selalu tunduk pada logika kemanusiaan.”
Perahu dilubangi di tengah perjalanan,
seorang anak dibunuh tanpa ada penjelasan,
rumah rusak diperbaiki, tanpa ada imbalan
Musa pun terus bertanya penuh kegelisahan
Akhirnya Khidir menjelaskan
hikmah peristiwa yang diperlihatkan:
Perahu dilubangi untuk menghindari
perampasan perahu oleh raja
Membunuh seorang anak laki-laki,
kelak ia akan durhaka kepada orang tuanya
Adapun rumah yang diperbaiki,
menyelamatkan harta anak yatim di dalamnya
Musa melihat dengan cahaya syariat:
jelas, tegas, untuk membimbing umat
Sementara Khidir berjalan dalam hikmah:
sunyi, dalam, tanpa batas arah
Di balik semua peristiwa,
terbuka tabir rahasia,
bahwa kebenaran tak selalu kasat mata,
dan hikmah tak selalu mudah diterka
Dari pertemuan itu lahir pelajaran:
ilmu bukan untuk meninggikan diri,
melainkan jalan menuju kerendahan hati
Semakin seseorang banyak tahu,
seharusnya ia sadar, betapa sedikit yang ia tahu
Artikel Terkait
Pengukuhan Relawan Baznas di Gunung Puntang Perkuat Mitigasi Bencana
Mempersiapkan Pionir Energi Hijau lewat Literasi Panas Bumi bagi Mahasiswa Cianjur
Peduli Kemanusiaan, DPP Prabu Nusantara Gelar Aksi Donor Darah di Cianjur
Cahaya Al-Muhajirin Pepabri Gunteng: Menggapai Ketenangan dari Masjid (Bagian 37)
Mutiara Pagi: Mungkin Kita Bertanya (Bagian 2197)
Rawat Motormu Sebelum Mogok, Rahasia Performa Tetap Joss dan Awet
Hotel Neo Kota Baru Parahyangan Gelar Kompetisi Mewarnai Kreatif untuk Anak
Dugaan Politik Uang di Muscab PPP Cianjur, Plt Ketua: Ini Kemunduran Demokrasi
Refleksi Hari Pendidikan Nasional, KOPRI PMII Cianjur Soroti Ketimpangan dan Kesadaran Kritis
Ketika Pemimpin Ingin Cepat Meninggal Dunia: Alarm Etika di Tengah Krisis Kepemimpinan Daerah