Mutiara Pagi: Pertemuan Dua Air (Bagian 2198)

photo author
M Wawan, Journal Nusantara
- Minggu, 3 Mei 2026 | 09:31 WIB
Monas Buka Hingga Malam Saat Imlek 2026, Atraksi Air Mancur dan Video Mapping Jadi Magnet Wisata (ilustrasi/Jakartatrend.com)
Monas Buka Hingga Malam Saat Imlek 2026, Atraksi Air Mancur dan Video Mapping Jadi Magnet Wisata (ilustrasi/Jakartatrend.com)

Suatu hari, dengan penuh keyakinan diri,
seorang pengikut bertanya pada Nabi Musa:
“Siapakah yang lebih berilmu,
jika dibandingkan dengan dirimu?”

Pertanyaan sederhana,
namun berlapis makna.
Dalam satu tarikan jawaban,
Musa tanpa ragu menyatakan:
“Tidak ada.”

Di situlah langit bergetar oleh teguran,
bukan murka yang membinasakan,
melainkan cinta yang mengingatkan
agar luruh sebutir kesombongan

Dengan kasih dan sayang-Nya,
tak dibiarkan hamba pilihan-Nya
tenggelam dalam ilusi kesempurnaan,
dan merasa dirinya dipenuhi kehebatan

Maka datanglah perintah itu:
“Carilah seorang hamba-Ku,
yang Kuberi ilmu dari sisi-Ku,
di pertemuan dua laut,
di mana keduanya tak saling larut.”

Perjalanan pun dimulai,
Musa melangkah pergi,
bukan hanya sekadar nabi,
melainkan pencari rahasia Ilahi

di pertemuan dua air yang sunyi,
bertemu Nabi Khidir yang misteri
Dua laut mengalir tanpa berbenturan,
berdampingan dalam keseimbangan

Musa pun berkata dengan sadar:
“Aku ingin belajar, wahai guru yang sabar,
ajarkanlah ilmu yang tersembunyi,
yang Tuhan titipkan dalam dirimu ini.”

Namun Khidir menjawab tanpa ragu:
“Engkau takkan mampu bersabar bersamaku,
Sebab ilmu yang akan kau saksikan,
tak selalu tunduk pada logika kemanusiaan.”

Perahu dilubangi di tengah perjalanan,
seorang anak dibunuh tanpa ada penjelasan,
rumah rusak diperbaiki, tanpa ada imbalan
Musa pun terus bertanya penuh kegelisahan

Akhirnya Khidir menjelaskan
hikmah peristiwa yang diperlihatkan:
Perahu dilubangi untuk menghindari
perampasan perahu oleh raja
Membunuh seorang anak laki-laki,
kelak ia akan durhaka kepada orang tuanya
Adapun rumah yang diperbaiki,
menyelamatkan harta anak yatim di dalamnya

Musa melihat dengan cahaya syariat:
jelas, tegas, untuk membimbing umat
Sementara Khidir berjalan dalam hikmah:
sunyi, dalam, tanpa batas arah

Di balik semua peristiwa,
terbuka tabir rahasia,
bahwa kebenaran tak selalu kasat mata,
dan hikmah tak selalu mudah diterka

Dari pertemuan itu lahir pelajaran:
ilmu bukan untuk meninggikan diri,
melainkan jalan menuju kerendahan hati
Semakin seseorang banyak tahu,
seharusnya ia sadar, betapa sedikit yang ia tahu

Halaman:
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Editor: M Wawan

Tags

Artikel Terkait

Rekomendasi

Terkini

Mutiara Pagi: Sembunyikan (Bagian 2273)

Jumat, 17 Juli 2026 | 05:47 WIB

Mutiara Pagi: Ketenangan Batin (Bagian 2272)

Kamis, 16 Juli 2026 | 06:03 WIB

Mutiara Pagi: Berikan Sebagian (Bagian 2270)

Selasa, 14 Juli 2026 | 06:32 WIB

Mutiara Pagi: Simpan Sebagian (Bagian 2269)

Senin, 13 Juli 2026 | 11:27 WIB

Mutiara Pagi: Perbedaan (Bagian 2268)

Minggu, 12 Juli 2026 | 06:58 WIB

Mutiara Pagi: Doa Saudara (Bagian 2266)

Jumat, 10 Juli 2026 | 06:37 WIB

Mutiara Pagi: Teruslah Belajar (Bagian 2263)

Selasa, 7 Juli 2026 | 07:44 WIB

Mutiara Pagi: Cahaya Ilmu (Bagian 2261)

Minggu, 5 Juli 2026 | 09:18 WIB

Mutiara Pagi: Hidup adalah Puisi (Bagian 2260)

Sabtu, 4 Juli 2026 | 12:19 WIB

Mutiara Pagi: Kedamaian (Bagian 2259)

Jumat, 3 Juli 2026 | 07:13 WIB

Mutiara Pagi: Kebaikan (Bagian 2258)

Kamis, 2 Juli 2026 | 07:35 WIB

Mutiara Pagi: Prasangka (Bagian 2256)

Selasa, 30 Juni 2026 | 07:37 WIB

Mutiara Pagi: Amanah (Bagian 2255)

Senin, 29 Juni 2026 | 07:49 WIB
X