Di ujung perahu tua
Ia duduk, membenahi jaring yang sudah uzur
Air laut menempel di tubuh seperti ayat-ayat
yang tak selesai disebut semalam
Angin pagi menampar pelan pipi renta
Ia biarkan, sebab di setiap hempasnya
ada rindu dari masa silam
saat anak-anaknya masih kecil
dan istrinya belum sepucat cahaya lampu petromaks
Ia berbicara pada langit
dengan bahasa yang tidak diajarkan di sekolah
"Ampuni dosa yang tenggelam
di antara ombak dan keserakahanku akan hasil"
“Laut ini sudah tua, seperti aku, gumamnya”
tapi masih tabah memelihara perahu-perahu serakah
Masih sudi menampung doa,
yang tak lagi dipanjat dari masjid,
tapi dari tubuh yang basah asin
Ia ingat janji itu,
janji kepada laut
bahwa ia akan tetap melaut
meski pasar tak pernah jujur
meski pemerintah cuma mampir saat kampanye
Kemudian ia kembali berdoa
bukan minta rezeki, bukan minta mujizat
Hanya minta satu hal:
Jangan wariskan lautan yang marah
kepada anak cucu yang masih belajar menyebut namanya
dengan suara tertatih
Ya Rabb,
Jika suatu saat aku tak pulang
biarlah laut yang mengazani tubuhku
dan perahu ini menjadi pusara
yang terus bergoyang
sambil menyebut nama-Mu dalam bisu
Malang, 5 Juli 2025
Salam sehat
M. Sinal
Artikel Terkait
Wakil Bupati "Nyambi"
Mutiara Pagi: Tokoh yang Besar (Bagian 1890)
Pemkab Cianjur dan RS Edelweis Siap Tingkatkan Pelayanan Kesehatan
Partisipasi Aktif Melalui Trisula Politik Kebangsaan, Menciptakan Kesejahteraan dan Perubahan
Mutiara Pagi: Bukan Teriakan (Bagian 1891)
Menjaga Daya Beli dan Mendorong Prioritas Nasional Lewat Evaluasi KUR dan Stimulus Ekonomi
Bersih-Bersih yang Menyenangkan, Rumah Jadi Kinclong
Ketika Laut Merenggut Asa, Tragedi Kapal Tenggelam di Tengah Badai
Suara Perempuan Adat, Penjaga Terakhir Raja Ampat dari Krisis Lingkungan
Quinoa, Superfood Pengganti Nasi yang Kaya Manfaat