Ingatlah bahwa segala yang kita miliki adalah titipan. Esok mungkin masih ada, mungkin juga tidak. Yang pasti, apa yang telah kita tanam hari ini akan menentukan warna senja pada masa berikutnya.
Oleh sebab itu, jangan menunggu sampai malam menyelimuti, baru menyadari bahwa kita telah berjalan begitu jauh tanpa arah. Pulanglah sebelum terlalu larut, sebelum senja benar-benar tenggelam. Sebab, dalam pulang ada ketenangan, ada penyucian diri, serta ada ruang untuk kembali mengingat makna kehidupan yang sejati.
Senja bukanlah akhir, melainkan jembatan menuju keheningan malam yang penuh renungan. Ia hanya mengingatkan bahwa segala sesuatu di dunia ini fana. Ada pun hati yang bersih serta hubungan dengan Tuhan adalah keabadian yang sesungguhnya.
Dengan demikian, ketika langit mulai merona, dengarkanlah panggilan senja itu dengan hati yang lapang. Pulanglah, sebelum malam benar-benar menyapa.
*Penulis adalah Corporate Legal Consultant, ahli bahasa hukum, founder Pena Hukum Nusantara (PHN), dan dosen Polinema.
Artikel Terkait
Mutiara Pagi: Lantunan Firman Ilahi (Bagian 1797)
Presnas BEM PTNU Dukung Presiden Prabowo Bersihkan Pemerintahan dari Koruptor
Langkah Kecil Menuju Keabadian
Mutiara Pagi: Malam yang Dinanti (Bagian 1798)
Sujud yang Menundukkan Ego
5 Hal Ikhwal Saling Mengingatkan Antar Sesama
Bersabar dan Bersyukur
5 Hal Yang Perlu Dipersiapkan di Bulan Ramadhan
Mutiara Pagi: Nikmat Bulan Suci (Bagian 1799)
Sri Mulyani Pusing: Rupiah Anjlok, APBN Alami Defisit Tembus 31T Lebih