Oleh Mohamad Sinal
Senja memanggil pulang pada jiwa yang lelah mengembara. Membentangkan cahaya jingga di batas cakrawala. Seperti ibu, yang menanti anaknya di ambang pintu.
Menjadu isyarat bagi manusia untuk merenung. Mengukur langkah dan bertanya kepada diri sendiri: sudahkah perjalanan hari ini membawa makna? Ataukah sekadar serangkaian jejak yang tak berbekas di pasir waktu.
Begitulah hidup, seperti senja, ia tak abadi. Mengikis segala yang ada, membungkusnya dalam gelap malam, hingga esok menjelang. Sementara, tidak semua yang ada di hari esok dapat direngkuh.
Bahkan, tidak semua perjalanan menemukan jalan pulangnya. Oleh sebab itu, kita diajarkan untuk hidup dengan penuh kesadaran. Agar tidak menyesal di penghujung hari ketika langit telah menjadi kelam.
Jakfar Sodiq, pernah berkata, "Barang siapa yang memperbaiki hatinya, Allah akan memperbaiki lahiriahnya. Barang siapa yang memperbaiki hubungannya dengan Allah, maka Allah akan memperbaiki hubungannya dengan manusia." Kalimat ini sederhana, tetapi mengandung hikmah yang mendalam.
Senja yang memanggil pulang bukan hanya tentang kembali ke rumah fisik, melainkan juga pulang ke dalam diri sendiri. Pulang kepada Sang Pencipta dengan hati yang bening. Menghadap Yang Maha Suci dengan jiwa yang murni.
Manusia kerap berlari mengejar dunia, seperti musafir yang tak mengenal lelah. Mengumpulkan kekayaan dan mengejar ambisi. Merajut mimpi-mimpi yang tak pernah berhenti.
Namun mereka lupa, di setiap senja yang menjingga, ada bisikan yang mengingatkan: “Segala sesuatu ada batasnya.” Dengan demikian, tak seorang pun yang bisa merengkuh dunia seutuhnya. Sebagaimana tiada tangan yang mampu menggenggam cahaya senja tanpa membiarkannya mengalir pergi.
Oleh karena itu, sebelum semuanya sirna, marilah belajar untuk melepaskan. Bukan dengan rasa kehilangan, tetapi dengan kebijaksanaan. Bukan dengan rasa penyesalan, tetaaapi dengan keikhlasan.
Pesan Jakfar Sodiq tersebut, menuntun kita untuk lebih banyak menata hati daripada menata dunia. Sebab, dunia ini hanyalah sementara. Ada pun kebeningan hati akan menjadi bekal yang lebih berharga ketika kelak malam yang abadi datang menghampiri.
Apabila hati sudah baik, segala yang tampak di luar pun akan mengikuti. Jika hati jernih, dunia akan terasa lebih damai dan tenteram. Selain itu, lebih mudah untuk disyukuri.
Sering kali, manusia bertanya mengapa hidupnya terasa hampa, padahal semua yang diimpikan telah tercapai. Harta melimpah, nama terkenal, dan keinginan demi keinginan telah terwujud. Namun, hati tetap terasa kosong.
Di antara penyebabnya adalah lupa untuk memeriksa diri: sudahkah kita membangun hubungan yang baik dengan Tuhan? Sudahkah kita menata hati sebagaimana kita menata dunia? Jika tidak, maka semua yang kita genggam hanya fatamorgana, tampak nyata tetapi hampa.
Jadi, ketika senja memanggil pulang, jangan biarkan panggilan itu berlalu begitu saja. Berhentilah sejenak, lalu lihatlah langit yang mulai meredup. Rasakan kelembutan angin yang berbisik di antara pepohonan.
Artikel Terkait
Mutiara Pagi: Lantunan Firman Ilahi (Bagian 1797)
Presnas BEM PTNU Dukung Presiden Prabowo Bersihkan Pemerintahan dari Koruptor
Langkah Kecil Menuju Keabadian
Mutiara Pagi: Malam yang Dinanti (Bagian 1798)
Sujud yang Menundukkan Ego
5 Hal Ikhwal Saling Mengingatkan Antar Sesama
Bersabar dan Bersyukur
5 Hal Yang Perlu Dipersiapkan di Bulan Ramadhan
Mutiara Pagi: Nikmat Bulan Suci (Bagian 1799)
Sri Mulyani Pusing: Rupiah Anjlok, APBN Alami Defisit Tembus 31T Lebih