Menjauhi Adu Domba Berdasarkan Ajaran Islam

photo author
Wandi Ruswannur, Journal Nusantara
- Selasa, 17 Desember 2024 | 05:22 WIB
Ilustrasi. Khutbah Jumat 1 November 2024 Singkat Hanya 10 Menit dengan Tema '3 Tahapan Agar Terhindar dari Orang yang Suka Adu Domba' (Pixabay / senjakelabu29)
Ilustrasi. Khutbah Jumat 1 November 2024 Singkat Hanya 10 Menit dengan Tema '3 Tahapan Agar Terhindar dari Orang yang Suka Adu Domba' (Pixabay / senjakelabu29)

Oleh: Munawir

Adu domba, atau dalam terminologi Islam dikenal sebagai namimah (النميمة), merupakan salah satu bentuk perilaku tercela yang telah banyak menciptakan kerusakan dalam kehidupan individu maupun masyarakat.

Tindakan ini, yang bertujuan untuk memprovokasi permusuhan atau konflik di antara manusia, menjadi penyebab utama perpecahan, kebencian, dan keretakan hubungan sosial.

Dalam perspektif Islam, adu domba termasuk kategori dosa besar karena dampaknya yang sangat merusak tatanan sosial dan moral manusia.

Islam, sebagai agama yang menjunjung tinggi nilai-nilai persaudaraan dan keharmonisan, menekankan pentingnya menghindari adu domba melalui berbagai ajaran Al-Qur'an dan hadits Nabi Muhammad SAW.

Larangan terhadap perilaku ini tidak hanya bertujuan menjaga hubungan antarindividu, tetapi juga mencegah kehancuran masyarakat secara keseluruhan. Allah SWT berfirman dalam QS. Al-Hujurat: 12 tentang larangan berprasangka buruk, mencari kesalahan orang lain, dan menggunjing, yang semuanya terkait erat dengan sifat adu domba. Rasulullah SAW juga menegaskan bahwa orang yang menyebarkan fitnah dan adu domba tidak akan masuk surga (HR. Muslim).

Fenomena adu domba sering kali dipicu oleh berbagai faktor, seperti hasad (iri hati), kebencian, ambisi pribadi, dan kurangnya pengendalian diri. Dalam konteks kehidupan modern yang serba cepat dan penuh persaingan, perilaku ini bahkan dapat dilakukan dengan lebih mudah melalui media sosial dan teknologi informasi. Ironisnya, banyak orang yang tidak menyadari dampak destruktifnya terhadap individu, keluarga, maupun masyarakat luas.

Tulisan ini berupaya untuk menjelaskan sebab-sebab, bahaya, dan dampak adu domba, baik dalam skala individu maupun sosial, serta menawarkan solusi yang diajarkan Islam untuk mencegah dan mengatasinya. Dengan pendekatan ini, diharapkan pembaca dapat lebih memahami urgensi menjaga keharmonisan dan menjauhi tindakan yang dapat merusak hubungan kemanusiaan.

*Sebab-sebab Adu Domba*

1. *Hasad dan Dengki (الحسد):*
Perasaan iri hati dan dengki mendorong seseorang untuk merusak hubungan baik antara orang lain. Rasulullah SAW bersabda:
إِيَّاكُمْ وَالْحَسَدَ، فَإِنَّ الْحَسَدَ يَأْكُلُ الْحَسَنَاتِ كَمَا تَأْكُلُ النَّارُ الْحَطَبَ (رواه أبو داود)
“Jauhilah hasad, karena hasad memakan kebaikan seperti api memakan kayu bakar." (HR. Abu Dawud)

2. *Kebencian dan Permusuhan (البغضاء):*
Kebencian terhadap seseorang atau kelompok tertentu sering kali memicu tindakan adu domba untuk merusak reputasi mereka. Allah SWT berfirman:
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اجْتَنِبُوا كَثِيرًا مِّنَ الظَّنِّ إِنَّ بَعْضَ الظَّنِّ إِثْمٌ وَلَا تَجَسَّسُوا وَلَا يَغْتَب بَّعْضُكُم بَعْضًا أَيُحِبُّ أَحَدُكُمْ أَن يَأْكُلَ لَحْمَ أَخِيهِ مَيْتًا فَكَرِهْتُمُوهُ ۚ وَاتَّقُوا اللَّهَ ۚ إِنَّ اللَّهَ تَوَّابٌ رَّحِيمٌ (سورة الحجرات: 12)
“Hai orang-orang yang beriman, jauhilah kebanyakan dari prasangka, sesungguhnya sebagian prasangka itu dosa. Dan janganlah kamu mencari-cari kesalahan orang lain dan janganlah sebagian kamu menggunjing sebagian yang lain. Sukakah salah seorang di antara kamu memakan daging saudaranya yang sudah mati? Maka tentulah kamu merasa jijik kepadanya. Dan bertakwalah kepada Allah. Sesungguhnya Allah Maha Penerima Taubat lagi Maha Penyayang." (QS. Al-Hujurat: 12)

3. *Keinginan untuk Mendapatkan Keuntungan Pribadi (المصلحة الشخصية):*
Seseorang mungkin melakukan adu domba untuk mencapai tujuan pribadi, seperti mendapatkan kekuasaan, harta, atau kedudukan.

4. *Kurangnya Pengendalian Diri (ضعف التحكم الذاتي):*
Ketidakmampuan untuk mengendalikan emosi dan lisan dapat menyebabkan seseorang terjerumus dalam perbuatan adu domba. Rasulullah SAW bersabda:
مَنْ كَانَ يُؤْمِنُ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ الآخِرِ فَلْيَقُلْ خَيْرًا أَوْ لِيَصْمُتْ (رواه البخاري)
“Barangsiapa yang beriman kepada Allah dan hari akhir, maka hendaklah ia berkata baik atau diam." (HR. Bukhari)

*Bahaya dan Efek Adu Domba*

Halaman:
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Editor: Wandi Ruswannur

Tags

Artikel Terkait

Rekomendasi

Terkini

Mutiara Pagi: Nilai Persahabatan (Bagian 2275)

Minggu, 19 Juli 2026 | 06:57 WIB

Mutiara Pagi: Kembali pada Diri (Bagian 2274)

Sabtu, 18 Juli 2026 | 06:20 WIB

Mutiara Pagi: Sembunyikan (Bagian 2273)

Jumat, 17 Juli 2026 | 05:47 WIB

Mutiara Pagi: Ketenangan Batin (Bagian 2272)

Kamis, 16 Juli 2026 | 06:03 WIB

Mutiara Pagi: Berikan Sebagian (Bagian 2270)

Selasa, 14 Juli 2026 | 06:32 WIB

Mutiara Pagi: Simpan Sebagian (Bagian 2269)

Senin, 13 Juli 2026 | 11:27 WIB

Mutiara Pagi: Perbedaan (Bagian 2268)

Minggu, 12 Juli 2026 | 06:58 WIB

Mutiara Pagi: Doa Saudara (Bagian 2266)

Jumat, 10 Juli 2026 | 06:37 WIB

Mutiara Pagi: Teruslah Belajar (Bagian 2263)

Selasa, 7 Juli 2026 | 07:44 WIB

Mutiara Pagi: Cahaya Ilmu (Bagian 2261)

Minggu, 5 Juli 2026 | 09:18 WIB

Mutiara Pagi: Hidup adalah Puisi (Bagian 2260)

Sabtu, 4 Juli 2026 | 12:19 WIB

Mutiara Pagi: Kedamaian (Bagian 2259)

Jumat, 3 Juli 2026 | 07:13 WIB

Mutiara Pagi: Kebaikan (Bagian 2258)

Kamis, 2 Juli 2026 | 07:35 WIB
X