internasional

Hadiah Awal Tahun: Jennifer, Siswi SMA Menerima Islam

Rabu, 15 Januari 2025 | 15:00 WIB
Ilustrasi Islam tanpa kyai dan agama masa depan (pixabay.com/mohamed_hassan)

Oleh: Shamsi Ali Al-Kajangi

Jum’at pertama di setiap bulannya adalah jadwal tetap saya menyampaikan khutbah di Jamaica Muslim Center. Jadwal ini bersifat permanen dan mengikat karena selain posisi saya sebagai Imam dan Direkturnya, juga karena memang harapan besar jamaah kepada saya minimal sekali sebulan menyampaikan khutbah. Maka ini adalah satu-satunya jadwal khutbah saya yang tidak bisa digeser dan digantikan selama memungkinkan.

Pada Jumat itu saya menyampaikan khutbah yang saya anggap cukup berat. Karena dalam beberapa hari terakhir ada beberapa pesan dari jamaah, bahkan dari pengurus Masjid, untuk saya menyampaikan khutbah sesuai dengan pesan-pesan itu. Apalagi pesan itu terkadang secara tidak langsung merupakan permintaan merespon kepada beberapa hal tertentu yang lagi menjadi perbincangan di komunitas.

Dua pekan lalu misalnya Jamaica Muslim Center mengadakan “Match-Making” atau acara temu jodoh untuk para “singles” di Komunitas yang berniat menikah. Acara itu berlangsung di ruangan basement Masjid. Ternyata ada-ada saja yang merespon kegiatan itu secara negatif. Mereka menyamakan acara itu dengan “dagang sapi”. Sebagian pula menganggapnya tidak Islami karena dianggap kurang sesuai adab-adab Masjid sebagai tempat ibadah.

Dua hari lalu juga salah seorang jamaah meninggal dunia. Di saat Sholat janazah sebagaimana kebiasaan meminta salah seorang anggota keluarga untuk menyampaikan sepatah dua kata. Almarhum itu meninggal muda dan meninggalkan dua anak yang masih kecil. Maka satu-satunya yang bisa bicara mewakili keluarga adalah isterinya. Ternyata perempuan yang berbicara walau di ruangan berbeda pun dianggap tidak sesuai etika Islam. Menurut segelintir orang bisa menimbulkan fitnah karena suara perempuan diperdengarkan di Masjid.

Selain kedua hal di atas, saya juga merespon kepada sebagian prilaku jamaah terhadap keberadaan anak-anak yang bermain di basement pada saat acara youth berlangsung. Menurutnya seharusnya di Masjid tidak bermain dan berlarian karena tidak sesuai adab-adab Masjid sebagai rumah ibadah.

Hal-hal di atas, dan beberapa hal lainnya, menjadi perbincangan bahkan perdebatan di kalangan jamaah yang mayoritas Asia Selatan itu. Apalagi menurut informasi yang sampai ke saya, ada Imam-Imam di Komunitas lain, mungkin karena pandangan tradisional ekstrim mereka menjadikan ikut mengompori sebagain jamaah di Komunitas kami. Akibatnya terjadi perdebatan yang cukup hangat yang mengantar kepada suasana yang kurang baik.

Jamaah Jum’atan di Jamaica Muslim Center cukup besar. Menurut perkiraan tidak kurang dari 2500-an atau lebih yang hadir mengikuti perhelatan mingguan itu. Sehingga sangat tepat jika khutbah kali ini saya pergunakan dengan baik untuk merespon kepada hal-hal yang menjadi perdebatan di kalangan anggota komunitas. Namun respon atau penjelasan pada khutbah itu saya tidak sampaikan kali ini. InsyaAllah akan disampaikan pada masanya.

Sekolompok anak SMU (High schoolers) hadir menyimak.

Tanpa saya ketahui ternyata di lantai dua Masjid (bagian wanita) ada sekolompok murid-murid wanita dari Jamaica High School ikut hadir dan menyimak khutbah saya. Sebagian besarnya beragama Islam. Namun ada juga yang beragama non Islam.

Seperti biasanya setelah selesai Jumatan saya tinggal sejenak di kantor menunggu jika ada jamaah yang ingin berbicara dengan saya atau ingin menanyakan sesuatu. Termasuk jika ada jamaah yang ingin mengklarifikasi tentang khutbah hari itu. Tapi tak seorang pun yang menemui saya. Karenanya saya segera kembali ke rumah yang tidak jauh dari Masjid.

Namun baru saja masuk rumah saya dapat telpon dari General Secretary (Sekertaris Umum) pengurus Masjid. Beliau menyampaikan bahwa ada sekolompok anak pelajar dari Jamaica High School (tetanggaan dengan rumah kami dan Masjid) yang ingin ketemu dengan Imam. Saya pun segera balik dan menemui mereka di kantor. Ada 9 orang murid, semua perempuan, yang hadir.

“Assalamu alaikum” sapa saya ketika masuk ke kantor Masjid.
“Alaikum Salam” jawab mereka yang Muslim serempak.

Setelah duduk saya kemudian menyampaikan permintaan maaf karena kembali ke rumah sebelum menemui mereka. “I did not know that you girls are here to see me”, kata saya.

Halaman:

Tags

Terkini

Jalan Maju Chile

Rabu, 8 Juli 2026 | 06:44 WIB

Islam: Agama yang Paling Disalahpahami

Sabtu, 13 Juni 2026 | 12:19 WIB

Langkah Spiritual dan Fisik Menuju Baitullah

Kamis, 9 April 2026 | 16:31 WIB

Misi Penjaga Perdamaian Dunia Kontingen Garuda

Minggu, 5 April 2026 | 20:47 WIB

Tetap Jaga Jarak

Jumat, 6 Maret 2026 | 14:57 WIB

Variasi Durasi Puasa di Berbagai Belahan Dunia

Minggu, 22 Februari 2026 | 04:46 WIB

Setiap Serangan Israel ke Iran, Selalu Dibayar Lunas

Kamis, 19 Februari 2026 | 05:22 WIB

AS Tangkap Presiden Venezuela Maduro, Besok Siapa?

Senin, 5 Januari 2026 | 05:59 WIB

Indonesia Jd Pemimpin IG Terbesar di ASEAN

Senin, 8 Desember 2025 | 21:33 WIB

Zohran Mamdani, Syiahkah?

Minggu, 9 November 2025 | 19:59 WIB