Umat Islam Indonesia akan nampak seperti itu ketika memasuki musim politik. Bagaimana umat mudah terkalahkan karena seringkali serampangan, tanpa perencanaan dan strategi yang matang.
Tujuh langkah menuju kemenangan
Setiba di Madinah Rasulullah SAW tidak serta merta menanggapi ha seolah sudah mendapatkan solusi dan kemenangan. Justeru ketibaan beliau di Madinah menjadi langkah awal bagi perjaungan fase berat di hari-hari selanjutnya.
Kini fase Dakwah itu bukan lagi membangun pribadi-pribadi yang solid secara iman. Tapi membangun komunitas global (umat) sesuai amanah Islam sebagai “rahmatan lil-alamin”.
Dalam beberapa tulisan ke depan saya akan elaborasi tujuh langkah yang Rasulullah lakukan menuju kepada kemenangan (fathun mubin) itu.
Urgensi masjid
Hal pertama yang Rasulullah lakukan setiba di Madinah adalah membangun Masjid.
Setiba di depan rumah Abu Ayyub Al-Anshori, di mana onta beliau berhenti dan berlutut menandakan Allah meridhoi beliau untuk tinggal sementara di rumah itu.
Hal yang beliau lakukan bahkan sebelum memasuki rumah itu adalah meletakkan batu pertama pembangunan masjid pertama dalam sejarah Islam. Masjid itu yang dikenal hari ini dengan Masjid Kuba.
Pembangunan Masjid sesungguhnya bukan pada pembangunan gedungnya.
Pemahaman tentang masjid yang seringkali dibatasi oleh pemahaman fisikal semata menjadikan fungsi Masjid menjadi sangat terbatas. Akibatnya umat Islam sibuk bahkan berlomba-lomba membangun gedung masjid yang mewah.
Tapi Masjid-Masjid itu tidak berfungsi sebagaimana misi dari Masjid itu sendiri.
Masjid adalah bentuk kata yang memaknai tempat. Dari kata “sajada-yasjudu-sujudan wa sajdat” yang kemudian menghasilkan kata masjid itu.
Sajada-sujudan wa sajdatan berarti bersujud. Makna lahirnya melekatkan dahi ke tanah/sajadah merendahkan diri dalam penyembahan kepada Pencipta langit dan bumi.
Maka masiid itu adalah “tempat bersujud” seperti pada pemahaman di atas. Di mana umat ini meletakkan dahinya berkali-kali dalam sehari semalam merendahkan diri kepada Allah SWT.
Namun sujud dalam pemahaman filosofisnya adalah tunduk, patuh dan taat kepada Allah SWT.