hiburan

4 Perbedaan Orang Jawa dan Sunda, dari Asal Usul hingga Karakter

Sabtu, 6 September 2025 | 20:00 WIB
Alasan Mengapa Suku Sunda dan Suku Jawa Terpisah (Youtube)

Journalnusantara.com - Pulau Jawa sejak lama menjadi pusat peradaban di Indonesia. Namun dengan hadirnya Ibu Kota Negara (IKN) baru, tidak menutup kemungkinan pusat perkembangan bangsa akan bergeser dari pulau ini.

Meski demikian, Pulau Jawa tetap menarik untuk dibahas karena dihuni oleh dua suku besar, yakni Jawa dan Sunda. Jika jumlah keduanya digabungkan, populasi suku Jawa dan Sunda hampir mencapai 60 persen dari total penduduk Indonesia. Walaupun tinggal di pulau yang sama, keduanya memiliki sejumlah perbedaan yang khas.

1. Asal Usul
Nama “Jawa” diyakini berasal dari kata Yava, yang berarti jelai atau tanaman padi-padian. Dari situlah muncul istilah Yavadwipa, yang kini dikenal sebagai Pulau Jawa. Pusat peradaban orang Jawa banyak berkembang di sekitar gunung berapi yang subur.

Sementara nama “Sunda” berasal dari kata Sund, yang berarti bercahaya. Istilah ini dikaitkan dengan ciri fisik masyarakat Sunda yang umumnya memiliki kulit lebih terang, karena peradaban mereka berkembang di dataran tinggi.

2. Struktur Masyarakat
Masyarakat Sunda cenderung egaliter, berbeda dengan masyarakat Jawa yang lebih feodal. Hal ini terlihat dari bahasa Sunda lama—khususnya di wilayah Banten—yang tidak mengenal tingkatan bahasa kasar, halus, maupun menengah. Pengaruh budaya keraton dan feodalisme lebih kuat di Jawa bagian timur dibandingkan di barat.

3. Karakter Positif
Orang Jawa dikenal pekerja keras, ambisius, dan serius. Jejaknya dapat dilihat dari pencapaian besar seperti pembangunan Candi Borobudur, Candi Prambanan, hingga Kerajaan Singasari dan Majapahit. Mereka juga dikenal suka merantau dan tahan hidup dalam kesederhanaan.

Orang Sunda identik dengan karakter santai dan humoris. Banyak tokoh hiburan berasal dari Sunda, bukan hanya karena penampilan mereka yang menarik, tetapi juga karena selera humor yang dekat dengan masyarakat luas.

4. Karakter Negatif
Stereotip negatif orang Jawa sering dikaitkan dengan sikap tidak terus terang dan politik yang penuh intrik. Dalam sejarah, strategi gerilya dan serangan mendadak kerap digunakan, mulai dari Perang Diponegoro hingga konflik internal antar kerajaan.

Sebaliknya, stereotip negatif orang Sunda kerap dikaitkan dengan sifat malas, kurang ambisius, dan jarang merantau. Sejarah kerajaan Sunda pun tidak menunjukkan ekspansi besar, karena masyarakatnya merasa tanah Pasundan sudah cukup memberi kehidupan.

Meski terdapat perbedaan, orang Jawa dan Sunda kini bersatu dalam bingkai Indonesia bersama suku-suku lainnya. Artikel ini tidak bermaksud mengunggulkan atau merendahkan salah satu pihak, melainkan menyoroti keunikan dua suku besar yang menjadi bagian penting dari bangsa.

Sumber: UrbanJabar.com

Tags

Terkini

Seni Membangun Kepercayaan Diri di Atas Panggung

Selasa, 2 Juni 2026 | 07:44 WIB