hiburan

Manis di Bibir, Racun di Hati

Kamis, 7 Agustus 2025 | 10:00 WIB
Pemandangan matahari terbit di Sunrise Point, Sunan Ibu, Ciwidey, Jawa Barat. Destinasi ini mendadak sangat digemari dan disasar turis lokal terutama kaum muda yang gemar wisata alam.

Oleh: Munawir Kamaluddin

Pernahkah engkau merasakan senyum yang manis, namun getir terasa di baliknya?

Pernahkah tangan yang menjabat erat justru menyembunyikan niat untuk menjatuhkan?

Mengapa kita begitu sering terperangkap pada kemasan kata dan wajah, hingga lupa menyelami niat dan maksud di baliknya?

Sampai kapan kita terus menilai kebenaran dari kata-kata yang manis tapi tak selaras dengan perbuatan?

Apakah hati kita masih cukup jernih untuk membedakan keikhlasan dan kepura-puraan?

Atau jangan-jangan, kitalah yang selama ini menjadi "udang" di balik batu orang lain, atau bahkan menyembunyikan diri di balik batu yang kita tumpuk sendiri?


Renungkanlah… Sebab dunia tak hanya soal apa yang tampak. Sebab tidak semua yang tersenyum itu bahagia.

Tidak semua yang memberi, tulus. Tidak semua yang bersahabat, ingin kita selamat.

*Makna Filosofis “Ada Udang di Balik Batu”*

Ungkapan ini adalah metafora tajam, ibarat kata yang tersenyum manis, namun menyimpan bisa di pangkal lidahnya.

Ia menggambarkan maksud tersembunyi di balik sikap atau tindakan yang tampaknya baik atau netral.

Ada udang di balik batu , berarti ada agenda yang tak terucap, niat tersembunyi, maksud yang tidak dinyatakan.

Inilah wajah kemunafikan modern, topeng sosial yang menipu dan jebakan kepentingan yang dibungkus manis dalam wacana “persahabatan”, “kerjasama”, atau bahkan “kebaikan”.

Halaman:

Tags

Terkini

Seni Membangun Kepercayaan Diri di Atas Panggung

Selasa, 2 Juni 2026 | 07:44 WIB