Diplomasi Seorang Raja

photo author
Wandi Ruswannur, Journal Nusantara
- Sabtu, 22 Februari 2025 | 04:50 WIB

Jika anda menjadi seorang raja dimana kekuasaan anda dikungkung sebuah negara superpower.

Apa yang akan anda lakukan ?
Memerangi secara terbuka ?
Atau berkompromi dengan tetap memperjuangkan hak-hak kemerdekaan ?

Bagi Gusti Raden Mas Purubaya, ia lahir dan besar di istana, pada masa berpuluh tahun setelah perang terbuka (perang Diponegoro) berakhir, dan menyadari bahwa Belanda sangat dalam menancapkan kukunya di pelbagai aspek negerinya. Sungguh perkara yang sulit untuk lepas dari kungkungan mereka. Bagai hidup dalam sangkar.

Ia tentu telah memahami konsekuensi setiap perjuangan seperti kakek2nya yang dibuang ke luar pulau ( Eyang Sultan Sepuh, Eyang Pakubuwana V dan tentu Eyang Diponegoro ). Semua perjuangan memang memerlukan taktik.

Tetapi ia [ dan ayahandanya ] menyadari, jika ingin melawan Belanda, maka ia harus menyelami kehidupan orang Belanda. Berfikir seperti Belanda.
Dan menemukan kelemahan orang Belanda. Tanpa meninggalkan kejawaannya.

Ia dikirim ke Belanda oleh ayahandanya atas misi ini. Taktik harus diubah ke ranah diplomasi.

Ayahnya, Sultan HB VII, dikenal sebagai Sultan Sugih. Sultan Kaya. Dengan sekitar 18 pabrik gula yang produknya diekspor ke luar negeri.

Tapi sekaya apapun ayahnya. Semua pengeluaran harus memperoleh persetujuan Belanda. Tahta juga harus melalui "screening" Belanda. Sesuatu yang telah diwarisi para raja Mataram sejak zaman Kartasura.

Ayahnya, Sultan HB VII sebenarnya bukan seseorang yg modernis. Ia selalu menempatkan dirinya dari kacamata Jawa. Kadang disinilah terjadi perbedaan pendapat dan cara berfikir saat berhadapan dengan Belanda. Tetapi ia merasa salah satu putranya harus merasakan didikan Belanda. Untuk itu dikirimlah putranya Purubaya.

KULIAH DI BELANDA

Di Belanda, Gusti Purubaya bertemu dengan anak muda dari pelbagai wilayah Nusantara [ Hindia Belanda/Dutch East Indies ] yg tengah kuliah disana. Mereka senasib merasakan pentingnya perjuangan ke arah kemerdekaan melalui diplomasi, bukan lagi melalui perlawanan sporadis karena pasti akan mengalami kekalahan.

Anak2 muda ini tergabung dalam Perhimpoenan Indonesia. Dalam sebuah memoar Achmad Soebardjo - ketua PI saat itu - menceritakan :

penggunaan bendera warna merah putih berawal ketika perhimpunan mahasiswa Belanda berkumpul dalam konferensi di Driebergen pada 1920. Gusti Purubaya juga turut menghadiri acara tersebut, ia datang menggunakan mobil dengan umbul-umbul "gula-kelapa". Sebuah dwaja tradisi Nusantara yang diwarisi Mataram dari Majapahit dan Sriwijaya.

Ini kemudian menjadi inspirasi bagi para mahasiswa untuk membuat bendera dengan warna yang sama.

Halaman:
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Editor: Wandi Ruswannur

Tags

Artikel Terkait

Rekomendasi

Terkini

Seni Membangun Kepercayaan Diri di Atas Panggung

Selasa, 2 Juni 2026 | 07:44 WIB

Makan Malam dan Dampaknya Bagi Kesehatan

Rabu, 1 April 2026 | 21:13 WIB
X