Journalnusantara.com, Makassar - Ada banyak ragam budaya adalah sesuatu kekayaan luar biasa dari masyarakat Nusantara. Kekayaan yang perlu terus dipelihara dan dilestarikan.
Kebudayaan tersebut yang merajut antara tradisi-adat dengan nilai-nilai keagamaan dalam bentuk upacara.
Biasanya masyarakat suku-suku Nusantara selalu membuatkan upacara untuk memasuki batas-batas perpisahan (rites of liminal separation).
Dalam hal ini seperti upacara kelahiran, pernikahan, dan kematian seseorang.
Upacara ini dikenal juga sebagai ritus peralihan (rites of passages) yang menandai tahap penting dalam kehidupan seseorang yang kemudian dianggap sebagai perintah untuk menjalankan adat dan tradisi.
Bahkan pada suku tertentu perintah ritus itu menjadi semakin kaya dan semakin banyak.
Khusus di seputar pernikahan saja ada banyak upacara seperti upacara pingitan, midodaren, permandian, injak telor dan tabur beras kuning, dan lain-lain.
Semua bentuk upacara itu ada maknanya. Semakin tinggi status sosial seseorang, akan semakin banyak upacara adat yg dilakukan.
Upacara batas-batas kehidupan itu bermakna doa dan harapan. Selain juga suatu penanda perpisahan dari masa lalu kepada kehidupan dunia baru.
Sabtu 18 Januari 2025, saya menghadiri undangan pernikahan keluarga.
Perhelatan akad nikah dan resepsi diselenggarakan di Ballroom Hotel Four Points by Sheraton Makassar.
Acara pernikahan adat Bugis karena kedua mempelai sama-sama warga keturunan suku Bugis.
Oleh: Hanif Sahara Gafur
Artikel Terkait
Ketika Diri Menjadi Tuhan Kecil di Dunia yang Luas
HIMA HKI Resmi Gelar Raker: Rancang Program Unggulan untuk Masa Depan
Mutiara Pagi: Sebuah Ironi (Bagian 1746)
STAI Al-Azhary Cianjur Gelar PMB, Hadirkan Pameran Seni dan PKPA di CFD
Sidang PPL Kepramukaan Racana STAI Al-Azhary Cianjur, Bukti Nyata Pengabdian
Interfaith Dialogue and the Middle East Conflict
Prahara Politik Jokowi: Siapa Kini yang Akan Membantunya? (2)
Prahara Politik Jokowi: Siapa Kini yang Akan Membantunya? (1)
Kajian Keperempuanan: KOPRI Rayon Tarbiyah Dorong Pemimpin Perempuan Tangguh
Mutiara Pagi: Penyakit Hati ( Bagian1747)