daerah

Makna Haol ke-29 KH Muhamad Kholilullah: Isyarah Waktu dan Rahasia Wali Masthur

Kamis, 5 Februari 2026 | 22:04 WIB
Haol ke-29 KH Muhamad Kholilullah (Apa Lili)

JOURNALNUSANTARA.COM, BOGOR – Genap dua puluh sembilan tahun sudah wafatnya KH Muhamad Kholilullah, atau yang akrab disapa Apa Lili. Dalam hitungan kalender Qamariyah, angka 29 bukan sekadar deretan digit, melainkan simbol kesempurnaan yang tersembunyi.

Peringatan Haol ke-29 sang ulama kharismatik ini digelar pada Sabtu, 7 Februari 2026, di Komplek Pesantren Sirojul Athfal. Agenda yang dihadiri ribuan jamaah dan muhibbin ini berlangsung khidmat sejak pagi hingga tengah malam.

Dalam ilmu falak, bilangan 29 menempati posisi unik. Ia adalah jumlah hari Qamariyah yang menandai sempurnanya peredaran bulan sebelum genap tiga puluh. Pada hari ke-29, bulan telah mencapai kematangannya, namun berada pada batas antara tampak (zhuhur) dan tersembunyi (khafi).

Para ahli falak menyebut fase ini sebagai istikmāl qabla al-zhuhūr—kesempurnaan sebelum penampakan. Sebagaimana dijelaskan Imām al-Bīrūnī dalam al-Ātsār al-Bāqiyah, siklus waktu mengandung hikmah tentang tajallī (penampakan) dan ihtijab (tertutupnya cahaya).

Angka 29 pada haol tahun ini dimaknai sebagai simbol kesempurnaan batin Apa Lili yang selama ini "disembunyikan" oleh Allah SWT, dan hanya disingkapkan kepada hamba-hamba pilihan-Nya, yakni para muhibbin yang mencintai beliau dengan adab dan kesadaran ruhani.

Ustadz Azzaam Muttaqie, Lc. menjelaskan bahwa para pecinta seringkali mendapatkan faidh (limpahan ruhani) meski tidak melalui jalur formal baiat. Mengutip Syekh ‘Abdul Wahhab as-Sya‘rānī dalam kitab al-Ṭabaqāt al-Kubrā:

"Ada orang yang tidak pernah duduk suluk dan tidak berbaiat, tapi mendapat faidh karena hatinya jujur dan adabnya lurus. Sebab, adab membuka pintu yang tidak bisa dibuka oleh sekadar klaim."

Ibarat orang yang berdiri di dekat mata air; meski tidak mengambil airnya secara langsung, ia akan tetap merasakan percikan kesejukannya.

Hal senada diungkapkan Ustadz Babas Basyarudin, guru sekaligus alumni Pesantren Sirojul Athfal. Ia bersaksi bahwa karamah Apa Lili nyata dirasakan sejak beliau hidup hingga setelah wafatnya, terutama saat bertawasul di makam beliau ketika menghadapi hajat besar.

Apa Lili adalah potret Wali Masthur (wali yang tersembunyi). Di balik sosoknya yang bersahaja, beliau adalah Pejuang 45 tanpa tanda jasa. Sanad ilmu dan nasabnya pun menyambung hingga Rasulullah SAW melalui garis kakek jalur ibunya.

Imam Abul Qasim al-Qusyairi dalam Al-Risālah al-Qusyairiyyah menegaskan:

"Auliyā’ Allāh berada di bawah kubah-kubah-Ku, tidak ada yang mengenal mereka selain Aku."

Sebagai wali masthur, Apa Lili tidak membangun citra spiritual atau menonjolkan kedudukan batiniah. Beliau lebih memilih larut dalam pelayanan kepada sesama. Sebagaimana pesan Imam ‘Abd al-Qadir al-Jailani dalam Bahjat al-Asrār, wali sejati adalah mereka yang sibuk dengan kebutuhan manusia, bukan sibuk membicarakan derajat rohaninya.

Salah satu fragmen kehidupan Apa Lili yang melegenda adalah kisah sebuah tongkat kayu rotan (hoe) dengan lingkaran unik. Tongkat itu didapatkan secara misterius di masa awal beliau berdakwah.

Halaman:

Tags

Terkini