Journalnusantara.com, Cianjur – Pimpinan Anak Cabang (PAC) Gerakan Pemuda Ansor dan Majelis Dzikir Sholat Rijalul Ansor (MDS RA) Kecamatan Karangtengah, Cianjur, menggelar diskusi menarik bertajuk "Tantangan dan Masa Depan Seni Kaligrafi di Era Teknologi Digital".
Acara yang berlangsung di Pondok Pesantren Darussalam Desa Maleber, Kecamatan Karangtengah, pada tanggal 10 Maret 2025 ini, menghadirkan pembicara ahli, Ustadz Dede Ahmad Sukandi, Wakil Bidang Dakwah PAC RA Karangtengah, yang memberikan pemahaman mendalam tentang seni kaligrafi dalam menghadapi kemajuan teknologi.
Dalam paparan singkatnya, Ustadz Dede Kades sapaan akrabnya menyampaikan bahwa perkembangan teknologi digital, khususnya yang berkaitan dengan Artificial Intelligence (AI), telah memberikan dampak signifikan pada seni kaligrafi.
"Pergerakan dunia kaligrafi cukup terpengaruh dengan adanya digitalisasi. Hal ini dirasakan di berbagai bidang, apalagi generasi muda sekarang banyak terpapar teknologi," ujarnya.
Lebih lanjut, Ustadz Dede menjelaskan bahwa kaligrafi adalah bagian tak terpisahkan dari seni Islam yang memiliki nilai tinggi, karena berasal langsung dari Al-Qur'an.
"Kaligrafi adalah Islamic art, yang artinya seni Islam. Seni ini memiliki kedudukan yang sangat mulia karena perintahnya datang langsung dari Al-Qur'an," jelasnya.
Seni kaligrafi, menurutnya, menyandang tiga atribut penting: sebagai ilmu dengan tata cara penulisan yang benar, sebagai alat untuk memperindah, dan sebagai media yang mengandung filsafat mendalam.
Mengenai hubungan antara teknologi dan kaligrafi, Ustadz Dede menyatakan bahwa teknologi justru memudahkan proses pembuatan kaligrafi.
"Dulu, kaligrafer harus mendesain dan menghitung secara manual, namun kini teknologi memungkinkan proses tersebut dilakukan lebih cepat dan akurat, bahkan bisa dicetak dalam hitungan detik," jelasnya.
Ketua PAC GP Ansor Karangtengah, Ridwansah, juga menanggapi hal ini dengan optimisme. Menurutnya, teknologi digital bukanlah ancaman, melainkan peluang untuk memperkaya dan memperindah seni kaligrafi.
"Dengan adanya teknologi, kita bisa menciptakan kaligrafi yang lebih menarik dan relevan dengan zaman. Kaligrafi tidak hanya berfungsi sebagai seni, tapi juga sebagai alat perdamaian dan pembentukan jiwa manusia," paparnya.
Di akhir sesi, Ustadz Dede menekankan pentingnya strategi inovatif untuk menjaga relevansi seni kaligrafi di era digital.
"Teknologi digital, yang berasal dari pemikiran algoritmik Al-Khawarizmi, sangat membantu. Tantangan sekarang adalah bagaimana kaligrafer bisa menciptakan karya yang inovatif dan tetap dihargai oleh generasi mendatang," tutupnya.
Dengan adanya diskusi ini, diharapkan seni kaligrafi akan terus berkembang dan dapat diterima oleh generasi muda, meskipun di tengah derasnya arus teknologi digital.