Journalnusantara.com, Cianjur - Melalui MDS RA, GP Ansor Karangtengah melaksanakan kegiatan studi rutin yang kedua kalinya, yang dihadiri oleh MWCNU Karangtengah, LBM Kabupaten Cianjur, PAC GP Ansor Karangtengah, serta tiga ranting yang mewakili desa lain, antara lain Maleber, Sabandar, dan Langensari, yang bertempat di Pondok Pesantren Sulaimaniyyah, Desa Sukasari, Kecamatan Karangtengah, Kabupaten Cianjur, pada hari Sabtu, 9 November 2024.
Tema yang diangkat MDS RA Karangtengah dalam kegiatan tersebut adalah tentang "Konsep Ahlus Sunnah Wal Jama'ah dalam Perspektif Politik Nasional" yang dipandu oleh KH. Endin Muhyidin, Ketua MWCNU Karangtengah.
Dalam sambutannya, Khatibul Umam, Ketua PAC GP Ansor Karangtengah, menekankan beberapa poin penting mengenai revolusi dan pemahaman terhadap dinamika situasi di era yang semakin kompleks dan dinamis.
Ia mengutip salah satu pemikiran tokoh Barat, Lenin, yang sangat relevan dengan kondisi saat ini, yaitu "Revolusi tidak mungkin terwujud tanpa teori revolusioner," yang menurutnya mengajak kita untuk bersatu dalam merancang teori perubahan.
Selanjutnya, H. Rudi Rodi Billah, Ketua MDS Rijalul Ansor Karangtengah, menyampaikan pentingnya pemahaman yang memiliki nuansa kebangsaan. Setiap kader yang memiliki minat dan talenta di bidang kekuasaan harus mengutamakan pemikiran siyasah aliyah samiyah (politik tingkat tinggi) demi terciptanya keadilan sosial bagi seluruh masyarakat, ujarnya.
Dalam kajian yang disampaikan oleh KH. Endin Muhyidin, yang sangat mendalam dan terperinci, ia membuka wawasan dan pemikiran bagi kader MDS Rijalul Ansor dan Gerakan Pemuda Ansor mengenai pentingnya memahami konsep prinsip-prinsip politik nasional dari perspektif Aswaja.
Dirinya menjelaskan perlunya mengadopsi dan merumuskan strategi harakah serta gagasan siyasah dalam menjaga dan mengawal struktur hierarki pemerintahan, terutama dalam menjaga Pancasila dan Negara Kesatuan Republik Indonesia.
"Bahwa NU atau Aswaja tidak dilahirkan untuk menentang pemerintah yang sah, melainkan untuk menjaga dan memahami pemerintah yang sah demi membangun bangsa dan mewujudkan masyarakat Indonesia yang adil dan beradab," ujarnya.
Menurutnya, Ahlussunnah wal Jama'ah yang berkembang saat ini bersinergi dengan nilai-nilai kearifan lokal bangsa Indonesia, sehingga membentuk kepribadian khas yang mengarah pada pengaruh positif terhadap perjalanan bangsa Indonesia dari Sabang hingga Merauke.
"Inilah yang kemudian membedakan Ahlussunnah wal Jama'ah dalam setiap perilaku politiknya, yang selalu mengedepankan nilai-nilai lokal yang telah menjadi ijtihad para pendahulu terkait arah gerak bangsa Indonesia, baik dalam ranah politik makro maupun mikro," imbuhnya.
"Sebagaimana kita pahami, ijtihad politik Ahlussunnah Wal Jama'ah selalu berpegang pada beberapa prinsip dasar dalam menjalankan organisasi, seperti tawassuth (moderasi), tawazun (keseimbangan), tasamuh (toleransi), dan amar ma'ruf nahi munkar," tandasnya.