Haol Masyayikh Sunanulhuda Sukabumi: Merawat Sanad, Menggerakkan Ekonomi Keumatan

photo author
M Wawan, Journal Nusantara
- Rabu, 28 Januari 2026 | 06:08 WIB
Haol Masyayikh Sunanulhuda Sukabumi
Haol Masyayikh Sunanulhuda Sukabumi

JOURNALNUSANTARA.COM, SUKABUMI – Pondok Pesantren Sunanulhuda, Cikaroya, Sukabumi, kembali menggelar rangkaian Haol Masyayikh pada 26–30 Januari 2026.

Agenda tahunan ini bukan sekadar seremoni mengenang para pendiri, melainkan penegasan posisi pesantren sebagai ruang hidup tradisi, spiritualitas, sekaligus refleksi intelektual dalam merespons tantangan zaman.

Touring Ziarah: Ikhtiar Menjaga Sanad Ruhani

Rangkaian Haol diawali dengan Touring Ziarah Sukabumi–Cianjur pada Minggu (25/1). Sebanyak 150 pengendara (rider) yang dipimpin langsung oleh Pimpinan Ponpes Sunanulhuda, KH Fikri Ali Majid, dan Ketua Panitia K Ilham Ramdani (Aa Ucu), menempuh perjalanan spiritual mengunjungi makam para ulama besar.

Rombongan memulai ziarah di Makam Pasir, komplek pesantren, tempat bersemayamnya:
1. Mama KH Uci Sanusi
2. Buya KH Dadun Sanusi
3. KH E Sholahudi Alayubi
4. KH Eman Sulaeman
5. KH Ilyas Tafsiridi
6. Habib Abdullah Alathas

Perjalanan berlanjut ke maqbarah masyayikh di Sukabumi dan Cianjur, di antaranya KH Muhammad Kholilullah (Apa Lili), KH Abdullah Mahfud, KH Masthuroh, Habib Syech Alathas, hingga KH Ahmad Sanusi. Ziarah diakhiri di maqbarah Mama Gentur dan Aang Nuh, Cianjur.

"Ziarah mengajarkan bahwa ilmu lahir dari adab dan keberkahan sanad. Tanpa itu, pesantren kehilangan ruhnya," ujar KH Luthfi Mukhtar Sholhudin, Ketua Panitia Haol.

Lebih lanjut dirinya menambahkan bahwa menjaga sanad adalah struktur ontologis relasi guru-murid yang bersifat ta‘alluq rūḥānī (keterikatan eksistensial).

Literasi Turats dan Jembatan Akademik

Satu hal yang menarik dalam Haol tahun ini adalah aspek intelektualitas melalui Pameran Manuskrip Turats Ulama Pasundan pada 28–29 Januari.

Sebanyak 500 kitab klasik, termasuk karya asli masyayikh Sunanulhuda seperti Mama KH Uci Sanusi dan Buya KH Dadun Sanusi, dipamerkan kepada publik.

Di mana pada saat yang sama, digelar SUHU Expo yang melibatkan 30 perguruan tinggi se-Jawa Barat.

"Santri perlu mengenal dunia akademik tanpa kehilangan identitasnya. Kita ingin menjembatani tradisi pesantren dengan masa depan pendidikan tinggi," ungkap panitia.

Ekonomi Keumatan dan Khidmah Al-Qur'an

Halaman:
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Editor: M Wawan

Tags

Artikel Terkait

Rekomendasi

Terkini

X